- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Rugikan Negara, Mafia Beras Fortifikasi Nikmati Subsidi Pangan Hingga Rp60 Triliun
Kredit Foto: Dokumentasi Kementerian Pertanian
Praktik manipulasi label beras fortifikasi oleh jaringan mafia pangan tidak hanya merugikan konsumen, melainkan juga menggerus ketahanan fiskal negara. Komoditas beras tersebut pada dasarnya telah menikmati subsidi dari pemerintah di sektor hulu.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa estimasi nilai subsidi yang melekat pada beras fortifikasi mencapai puluhan triliun rupiah.
"Itu subsidi pemerintah, kita hitung kemarin khusus untuk beras fortifikasi itu kurang lebih itu 56-60-an triliun," tegas Mentan Amran saat doorstop bersama wartawan di kediamannya, Jakarta Selatan, Jumat (31/7/2026).
Lebih lanjut, Amran menjelaskan komponen subsidi hulu yang diserap oleh jaringan mafia ini mencakup subsidi pupuk, irigasi, listrik, bahan bakar minyak (BBM), benih, hingga pengadaan traktor.
"Ini kan semua beras Indonesia ini adalah subsidi kan? Subsidi pupuk kan? Subsidi irigasi, subsidi listrik, subsidi BBM, ya kan?" sambung Amran.
Kementan mengecam keras tindakan pihak konglomerat besar yang memanfaatkan barang bersubsidi ini untuk melakukan penipuan mutu. Harga jual beras yang dipatok mencapai Rp42.000 per kilogram dipandang sebagai bentuk perampasan ganda terhadap dana negara dan hak publik.
Selain itu, pemerintah mengambil langkah saintifik guna membuktikan kecurangan peredaran beras di pasaran. Kementerian Pertanian (Kementan) menerjunkan sejumlah laboratorium untuk menguji kualitas kandungan vitamin pada beras berlabel fortifikasi.
Mentan Amran menyatakan bahwa pihaknya menggunakan antara lima hingga sepuluh laboratorium untuk memvalidasi kualitas komoditas beras fortifikasi tersebut.
"Oleh karena itu, sekarang kami gunakan lab banyak seperti dulu, mungkin sampai 5 sampai 10 lab kita gunakan," jelas Mentan Amran dalam waktu yang sama.
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Amran Siapkan Bibit Gratis dan Pengolahan Lahan bagi Pesantren
Baca Juga: Tepis Isu Untung 2 Triliun, Mentan Amran Tegaskan Kasus Beras Adalah Kejahatan Penipuan
Amran mengungkapkan, berdasarkan hasil pengujian dari tiga laboratorium yang telah keluar, mayoritas sampel yang diuji terbukti tidak memenuhi standar gizi fortifikasi.
"Ini sudah ada 3 lab keluar hasilnya, itu 80% bukan beras fortifikasi atau tidak sesuai standar. Tentu ini kita tindaklanjuti dan proses," katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra