Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Elektabilitas Prabowo 23,4 Persen di Survei IPO, Partai Mulai Bicara Pilpres 2029

Elektabilitas Prabowo 23,4 Persen di Survei IPO, Partai Mulai Bicara Pilpres 2029 Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nama Presiden Prabowo Subianto menempati posisi teratas dalam survei elektabilitas calon presiden 2029 yang dilakukan Indonesia Political Opinion (IPO). Prabowo memperoleh elektabilitas 23,4 persen dalam simulasi terbuka.

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan posisi Prabowo masih unggul dibandingkan sejumlah tokoh lainnya. Namun, jarak elektabilitasnya belum cukup lebar untuk disebut aman.

“Dalam simulasi terbuka, di mana responden bebas menjawab tanpa intervensi, nama Presiden Prabowo Subianto masih berada di posisi teratas, meskipun memang tidak signifikan meninggalkan nama-nama yang lain,” kata Dedi, Minggu (9/8/2026).

Gubernur Jawa Barat berada di posisi kedua dengan elektabilitas 21,7 persen. Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyusul dengan 11,5 persen.

Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 4,5 persen. Ganjar Pranowo berada di angka 4,1 persen, sedangkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat 3,9 persen.

Sejumlah tokoh lainnya mendapat elektabilitas di bawah tiga persen. Mereka antara lain Sherly Tjoanda 2,1 persen, Mahfud MD 1,7 persen, Purbaya Yudhi Sadewa 1,5 persen, Muhaimin Iskandar 1,2 persen, dan Zulkifli Hasan 1 persen.

Sebanyak 17 persen responden belum menentukan pilihan atau memilih merahasiakan jawabannya. Kondisi tersebut membuat persaingan menuju Pilpres 2029 masih sangat terbuka.

Ketua DPP PDI-P Andreas Hugo Pareira mengingatkan bahwa Pilpres 2029 masih memiliki waktu sekitar tiga tahun. Menurutnya, survei hanya menggambarkan kondisi politik ketika penelitian dilakukan.

“Survei kan potret hari ini, Pilpres masih tiga tahun lagi,” ujar Andreas.

Andreas juga menilai keputusan Prabowo untuk kembali maju pada Pilpres 2029 berada di tangan Presiden. Dia mengatakan tidak ingin berspekulasi mengenai rencana tersebut.

“Soal lanjut atau tidak, pak Prabowo yang paling tahu. Saya tidak mampu meramal. Soal ramal meramal politik wilayahnya pengamat,” katanya.

Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Hermawi Taslim menilai tingginya elektabilitas Prabowo merupakan hal yang wajar. Posisi tersebut dinilai berkaitan dengan status Prabowo sebagai presiden petahana.

“Survei itu kan potret sesaat. Dan adalah sangat wajar kalau Prabowo masih yang tertinggi, karena sekarang beliau masih menjadi petahana yang sedang berkuasa,” tutur Hermawi.

Hermawi mengatakan Prabowo saat ini seharusnya fokus menyelesaikan periode pertamanya. Nasdem juga memilih menunggu perkembangan pemerintahan sebelum berbicara lebih jauh mengenai Pilpres 2029.

Ketua DPP PKB Daniel Johan melihat hasil survei IPO sebagai masukan bagi pemerintah. Dia meminta pemerintahan Prabowo terus meningkatkan kinerja.

“Hasil survei bisa menjadi salah satu masukan yang berharga untuk semakin memperkuat kinerja,” kata Daniel.

Menurut Daniel, pemerintah perlu memastikan berbagai program benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat. Dia menyoroti peningkatan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, penguatan sektor riil, serta sektor pertanian dan pangan.

Wakil Ketua Umum PAN Saleh Daulay justru secara terbuka mendukung jika Prabowo kembali maju pada Pilpres 2029. PAN menilai Prabowo membutuhkan waktu lebih panjang untuk menyelesaikan berbagai program pemerintah.

“PAN sangat setuju jika Prabowo melanjutkan 2 periode. Pekerjaan yang sedang direncanakan dan dikerjakan lumayan banyak. Tentu tidak bisa serta merta diwujudkan secara bersamaan. Dibutuhkan waktu untuk merealisasikannya,” ujar Saleh.

Saleh menilai hasil survei IPO dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk pencalonan kembali Prabowo. Namun, dia mengingatkan elektabilitas tersebut masih bisa berubah karena Pilpres 2029 masih jauh.

Sementara itu, Dedi menegaskan posisi Prabowo belum sepenuhnya aman. Selisih elektabilitas Prabowo dengan Gubernur Jawa Barat hanya sekitar 1,7 persen.

Menurut Dedi, keberlanjutan dukungan publik akan bergantung pada kinerja pemerintahan. Program yang dianggap memberikan manfaat langsung kepada masyarakat dapat memperkuat peluang Prabowo untuk kembali memenangkan Pilpres.

“Ingatan publik semacam ini perlu dijaga, tentu dengan kebijakan yang dekat dengan kebutuhan publik, jika semua program Presiden diterima dan mendapat penilaian baik, akan menjadi lebih bagi Presiden Prabowo untuk kembali memenangi kontestasi di periode keduanya,” jelasnya.

Survei nasional IPO dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026. Survei melibatkan 1.200 responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling.

Survei tersebut memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar ±2,9 persen. Hasil survei ini menunjukkan Prabowo unggul untuk sementara, tetapi peta persaingan Pilpres 2029 masih berpotensi berubah.

Baca Juga: Pemerintahan Prabowo Disebut Gagal, Elektabilitas Dedi Mulyadi Melonjak

Prabowo sendiri sebelumnya pernah menyampaikan kemungkinan tidak maju pada Pilpres 2029. Pernyataan itu disampaikan dalam Kongres VI Partai Demokrat 2025 ketika merespons dukungan Partai Gerindra agar dirinya kembali mencalonkan diri.

“Saya kemarin dicalonkan oleh partai saya untuk maju lagi 2029, nakal-nakal itu kader saya. Baru 100 hari kerja udah disuruh maju lagi. Tapi saya katakan, saya katakan, kalau tahun keempat saya mengabdi dan saya kecewa dengan prestasi saya, sata tidak akan maju tahun 2029,” tegas Prabowo.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy