Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Eks Wamenkumham Peringatkan Prabowo: Jangan Terlambat atau Bersiap Digulung Kekuatan Fatimah Azzahra

Eks Wamenkumham Peringatkan Prabowo: Jangan Terlambat atau Bersiap Digulung Kekuatan Fatimah Azzahra Kredit Foto: Alit Ambara
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Denny Indrayana menyampaikan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia meminta presiden segera menangkap semangat perjuangan yang ditunjukkan mahasiswa, khususnya Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) Fatimah Azzahra.

Denny menilai mahasiswa itu bukan sekadar mahasiswa yang menyampaikan kritik. Ia melihat sosok tersebut sebagai representasi kekuatan masyarakat yang masih memiliki keberanian untuk berhadapan dengan kekuasaan. Karena itu, Denny meminta presiden tidak meremehkan suara mahasiswa.

Baca Juga: Prabowo Satukan Jokowi dengan Semangat Antikorupsi, Pakar: Sulit Dicerna Logika

“Sebelum terlambat Presiden Prabowo. Cari lagi kekuatan juang itu pada kemurnian dan ketulusan niat mencintai Indonesia,” ungkap Denny, dikutip Jumat (21/8/2026).

Denny mengaku terkesan dengan sikap mahasiswa terkait yang berani menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Ia bahkan membandingkan energi perjuangan mahasiswa tersebut dengan pidato Presiden Prabowo.

Menurut Denny, Fathimah yang beorasi hanya berlangsung beberapa menit mampu memberikan dorongan perjuangan yang lebih kuat. Ia menyebut tulisan mahasiswa itu berjudul “Bangsaku” sebagai salah satu alasan dirinya melihat mahasiswa tersebut memiliki semangat nasionalisme yang kuat.

Denny kemudian mengaitkan keberanian sosok itu dengan sejumlah isu yang menurutnya membutuhkan perhatian publik, mulai dari pemberantasan korupsi hingga persoalan penyelenggaraan negara.

Menurut dia, kekuatan sebuah gerakan tidak selalu berasal dari kelompok yang memiliki sumber daya besar. Justru, ketulusan dan konsistensi dapat membuat suara masyarakat memiliki daya tekan yang besar terhadap pemerintah.

Denny kemudian menyampaikan peringatan yang jauh lebih keras. Ia mengingatkan presiden bahwa apabila pemerintah tidak mampu menangkap keresahan masyarakat, kekuatan tersebut dapat berkembang menjadi tekanan politik yang lebih besar.

“Sebab, jika gagal, maka bersiaplah digulung oleh kekuatan Fatimah, kekuatan mahasiswa, kekuatan rakyat, kekuatan kami yang tidak kaya-raya, tapi mencintai Indonesia apa adanya,” ungkap Denny.

Menurut Denny, persoalan utama yang harus diperhatikan pemerintah bukan sekadar meredam kritik. Pemerintah justru perlu menjawab alasan munculnya kritik tersebut. Ia menilai masyarakat akan semakin sulit percaya apabila terdapat jarak antara pidato pemerintah mengenai nasionalisme dan antikorupsi dengan tindakan yang dianggap tidak konsisten.

“Kuncinya adalah pada kejujuran, pada konsistensi, pada kesamaan antara orasi dan aksi,” tuturnya.

Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia dan Front Mahasiswa Nasional (FMN) menggelar demonstrasi dan menyampaikan delapan tuntutan, pada Selasa (18/08).

Hingga akhir demo, para mahasiswa tak berhasil mencapai tujuan lokasi aksi mereka di Bundaran Hotel Indonesia. Hal itu karena barisan aparat mengadang mereka sekitar satu kilometer dari Bundaran Hotel Indonesia.

Beberapa kali terdengar perintah polisi agar mahasiswa tidak memaksa maju. Namun, para mahasiswa terus berjalan dan bergerak maju, sembari berorasi dan menyanyikan yel-yel "pembunuh, pembunuh, pembunuh", disusul "buka, buka jalannya sekarang juga".

Baca Juga: NTT dan Kalimantan Jadi Sorotan Anies Baswedan: Jangan Biarkan Warga Menghadapi Bencananya Sendirian

Dalam aksinya, mereka mengajukan delapan tuntutan yang terpampang dalam poster bergambar sindiran maupun kritikan terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar