Kredit Foto: PFN
Rencana PT Produksi Film Negara (Persero) atau PFN merilis jaringan bioskop BUMN bernama Sinewara pada 2027 bakal semakin meramaikan persaingan di industri layar lebar.
Hanya saja, perusahaan pelat merah tersebut dinilai tidak bakal mampu mengambil pasar pada pengelola bioskop besar yang sudah eksisting, semisal PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) dengan Cinema XXI, dan PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) dengan CGV Cinemas.
Pengamat BUMN Toto Pranoto mengatakan, PFN sebaiknya mengambil pangsa pasar yang belum terjamah oleh Cinema XXI dan CGV, semisal lewat pemutaran film indie.
"Sinewara tidak bisa mengambil posisi sebagai pesaing langsung cinema XXI atau CGV , karena sumber resources dan kapabilitas yg berbeda," kata Toto kepada Warta Ekonomi, Jumat (21/8/2026).
Sinewara bisa posisikan diri sebagai creator, menjadi akses untuk pemutaran film-film Indie supaya film tersebut dikenal publik," dia menambahkan.
Opsi lainnya, PFN dengan Sinewaranya didorong untuk mengambil posisi pada konsumen segmen menengah bawah. Dengan menawarkan tiket lebih murah, sehingga bisa menjangkau penonton lebih luas.
"Untuk bisa dapatkan revenue generator yang kuat maka Sinewara juga harus kembangkan bisnis F&B yang oke. Sehingga bisa cross subsidy harga tiket masuk yang murah," imbuh Toto.
Tak bisa dipungkiri, PFN secara kekuatan bisnis memang belum sebesar PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) dan PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ). Hal ini terlihat dari laporan keuangan terakhir yang disampaikan masing-masing perusahaan.
Baca Juga: Kinerja PFN Lesu, Sinewara Siap Tantang Cinema XXI dan CGV?
Mengutip laporan keuangan terakhir PFN per 2024, perseroan masih mencatatkan rugi bersih di sepanjang 2024 sebesar Rp3,81 miliar. Lebih besar dibandingkan rugi bersih per 2023 sebesar Rp2,64 miliar.
Dari sisi pendapatan, PFN mengantongi sekitar Rp12,45 miliar di sepanjang 2024, turun dibandingkan capaian pada tahun sebelumnya di 2023 sebesar Rp13,19 miliar.
Di sisi lain, pengelola bioskop Cinema XXI dan CGV Cinemas dalam laporan keuangan terakhirnya masing-masing terpantau punya skala bisnis lebih kuat dibanding PFN.
Ambil contoh PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) selaku pengelola Cinema XXI, yang membukukan pendapatan sebesar Rp2,63 triliun pada semester I 2026. Meskipun secara angka turun 8,59% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,88 triliun.
Sementara PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) selaku pengelola CGV Cinemas sukses berbalik dari posisi rugi pada 2024, dengan membukukan laba pada 2025 lalu.
Perseroan mencatat laba yang diatribusikan ke entitas induk perseroan sebesar Rp60,84 miliar pada 2025. Usai membukukan kerugian sebesar Rp71,27 miliar pada 2024.
Adapun pendapatan perusahaan naik 7,69% (YoY) menjadi Rp1,26 triliun di 2025. Angka ini diperoleh dari segmen bioskop sebesar Rp768,96 miliar, makanan dan minuman sebesar Rp406,66 miliar, serta acara-acara dan iklan Rp82,28 miliar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Istihanah