Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Denny Indrayana Sentil Andi Azwan: Apa Motif Anda Selalu Memuja Jokowi dan Gibran?

Denny Indrayana Sentil Andi Azwan: Apa Motif Anda Selalu Memuja Jokowi dan Gibran? Kredit Foto: Instagram/Denny Indrayana
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perdebatan mengenai kritik terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memanas. Kali ini, pakar hukum tata negara sekaligus mantan Wamenkumham Denny Indrayana mempertanyakan motif pihak yang dinilai konsisten membela keluarga Jokowi.

Denny merespons pernyataan Andi Azwan yang sebelumnya mempertanyakan alasan di balik sikap kritis terhadap Jokowi dan Gibran. Alih-alih menjelaskan panjang lebar mengenai motif kritik tersebut, Denny meminta Andi lebih dulu melihat sikapnya sendiri.

"Andi Azwan, jangan bicara motif di depan saya. Tanyakan pada diri Anda sendiri, motif Anda apa? Selalu memuja dan menghamba kepada Jokowi dan Gibran?" katanya di akun X.

Baca Juga: 'Tuhan Tunjukkan Nafsu Jokowi Ingin Berkuasa Lebih Lama Lewat Mulut Budi Arie'

Denny kemudian menjelaskan bahwa sikap kritis yang selama ini ia tunjukkan bersama pihak-pihak lainnya tidak didasari kepentingan materi. Menurutnya, kritik tersebut muncul karena dorongan hati nurani dan keyakinan terhadap persoalan yang sedang menjadi perhatian publik.

"Kami yang bersuara kritis ini bermotif panggilan hati nurani," ujarnya.

Denny menyebut tidak ada bayaran yang diterimanya atas sikap kritis yang disampaikan. Ia pun mengklaim sikap tersebut justru membawa konsekuensi tersendiri bagi dirinya, termasuk dalam urusan profesional. 

"Tidak ada satu sen pun bayaran, justru beresiko kantor hukum saya tidak mendapatkan klien," sambung dia.

Baca Juga: Said Didu: Akhirnya Terbuka Jokowi Tak Rela Serahkan Kekuasaan ke Prabowo

Tak hanya persoalan kehilangan klien, Denny juga mengaku siap menghadapi risiko hukum akibat kritik yang disuarakannya. Ia menyebut kemungkinan dilaporkan hingga diproses secara hukum sebagai konsekuensi yang siap dihadapinya.

"Beresiko dikriminalisasi, dilaporkan polisi, dikasuskan secara hukum. Kami hadapi bismillah siap hadapi," ungkapnya.

Dalam pernyataannya, Denny turut membawa-bawa istilah relawan yang selama ini kerap digunakan untuk menyebut kelompok pendukung tokoh politik. Ia meminta istilah tersebut tidak kehilangan makna apabila terdapat kepentingan atau imbalan di balik dukungan yang diberikan.

"Jangan rusak kata relawan, karena sudah jadi bayaran," imbuhnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: