Iran Bantah Rencana Serang Barron Trump: Netanyahu Disebut Sebar Propaganda
Kredit Foto: Istimewa
Iran membantah laporan yang menyebut Teheran berencana menargetkan Barron Trump, putra bungsu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pemerintah Iran menyebut informasi tersebut sebagai propaganda yang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti Trump.
Bantahan tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, dalam pernyataannya pekan ini. Rezaei menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada di balik munculnya klaim tersebut.
"Klaim soal adanya rencana yang menargetkan putra Trump hanyalah kebohongan besar yang dirancang oleh Netanyahu, untuk menipu dan dan menakut-nakuti Presiden AS," sebut Rezaei dalam pernyataannya, seperti dikutip kantor berita ISNA.
Rezaei menegaskan Iran tidak memiliki rencana untuk menyerang anggota keluarga Trump. Pernyataan itu muncul setelah laporan mengenai dugaan ancaman terhadap Barron menjadi perhatian publik.
Kontroversi tersebut sebelumnya dipicu tayangan televisi pemerintah Iran yang menampilkan video buatan AI. Video yang disiarkan Channel 3 Iran itu memuat informasi mengenai tempat tinggal dan pergerakan Barron Trump di New York.
Tayangan tersebut kemudian ditafsirkan secara luas sebagai ancaman terhadap putra bungsu Trump. Namun, Rezaei menegaskan laporan mengenai rencana serangan terhadap Barron merupakan klaim yang tidak benar.
Ketegangan antara Iran dan AS sendiri masih tinggi setelah konflik kedua negara kembali memanas. Washington dan sekutunya Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada akhir Februari lalu yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan terhadap sejumlah posisi dan aset militer AS di Timur Tengah.
Baca Juga: Program Magang Nasional 2026 Batch 2 Angkatan II Dibuka, Ini Jadwal Lengkapnya
Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni lalu. Kesepakatan tersebut dimediasi Pakistan dan Qatar dengan tujuan mengakhiri permusuhan serta membuka jalan bagi perundingan.
Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut menghadapi hambatan. Teheran menuduh Washington tidak menjalankan komitmennya hingga pertempuran kembali pecah setelah kedua pihak saling melancarkan serangan pada Juli lalu.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: