Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Premi Asuransi Umum Anjlok, Klaim Malah Meledak 23,3% Jadi Rp29,5 Triliun

Premi Asuransi Umum Anjlok, Klaim Malah Meledak 23,3% Jadi Rp29,5 Triliun Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat premi industri asuransi umum mencapai Rp61,25 triliun pada triwulan II-2026. Nilai tersebut terkontraksi 1,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp62,23 triliun.

Ketua AAUI Budi Herawan mengatakan kontraksi premi terjadi di tengah ekonomi Indonesia yang masih tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap industri asuransi umum masih cukup kuat.

"Kondisi ekonomi Indonesia triwulan kedua dengan pertumbuhan 5,29% tapi dampak di industri asuransi umum seperti apa nanti juga kita akan sampaikan dan tentunya kinerja bahwa kita mengalami suatu turbulensi yang cukup berat dalam arti pertumbuhan kita di Q2 ini year-on-yearnya memang minus," ujarnya dalam Konferensi Pers AAUI Triwulan II 2026, Jumat (4/9/2026).

Di tengah kontraksi premi, beban klaim justru meningkat signifikan. AAUI mencatat nilai klaim bruto sebesar Rp29,51 triliun pada triwulan II-2026, tumbuh 23,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp23,93 triliun.

Kinerja industri tersebut terutama tertekan oleh lini usaha properti yang selama ini menjadi kontributor terbesar premi asuransi umum. Pada triwulan II-2026, lini properti memiliki pangsa pasar 26,6% dengan premi Rp15,50 triliun, tetapi terkontraksi 13,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain properti, lini engineering juga mencatatkan penurunan premi sebesar 14,1% menjadi Rp2,3 triliun dari Rp2,7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Lini energy on shore mengalami kontraksi lebih dalam, yakni 40,4%, menjadi Rp90 miliar dari sebelumnya Rp152 miliar. Sementara itu, premi lini suretyship turun 10,2% menjadi Rp716 miliar dari Rp798 miliar.

Di sisi lain, sejumlah lini usaha masih mencatatkan pertumbuhan positif. Lini motor vehicle dengan pangsa pasar 16,9% membukukan premi Rp9,85 triliun atau tumbuh 4,9%.

Kemudian, premi health insurance mencapai Rp6,26 triliun atau tumbuh 2,9%. Sementara itu, lini credit insurancemencatatkan premi Rp9,32 triliun atau tumbuh 9,3%.

Baca Juga: AAUI Ungkap Klaim Bencana NTT-Kalimantan Sementara Tembus Rp20 Miliar

Baca Juga: Premi Asuransi Kesehatan Jiwa Tumbuh 12,04% Jadi Rp20,57 Triliun

Baca Juga: Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Tumbuh 5,14% Jadi Rp10,69 Triliun hingga Juni 2026

Tekanan juga terlihat pada bisnis reasuransi. AAUI mencatat premi reasuransi pada triwulan II-2026 terkontraksi 13,8% menjadi Rp12,48 triliun dari Rp14,48 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, penurunan premi reasuransi tersebut diikuti dengan kontraksi klaim bruto sebesar 6,6% menjadi Rp5,4 triliun.

Kinerja tersebut mencerminkan tantangan industri asuransi umum pada paruh pertama 2026, ketika pertumbuhan premi belum mampu mengimbangi tekanan pada sejumlah lini usaha, sementara klaim bruto justru meningkat secara tahunan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri