- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Nadi Teknologi di Batu Hijau: Strategi AMMAN Merengkuh Logam yang Nyaris Sirna
Kredit Foto: AMMAN
Tembaga dari Batu Hijau tidak selalu kehilangan nilai ketika harga komoditas turun atau produksi tambang terganggu. Kehilangan nilai juga dapat terjadi jauh sebelum logam menjadi produk akhir: ketika bijih mengalami oksidasi di stockpile, ketika kondisi kimia slurry berubah di pabrik pengolahan, ketika keputusan proses terlambat diambil, hingga ketika sisa peleburan masih menyimpan mineral berharga.
Di Sumbawa Barat, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) mencoba menangkap kembali nilai yang tertinggal tersebut melalui serangkaian teknologi yang bekerja di sepanjang rantai produksi. Sensor kimia membaca kondisi slurry secara real-time, kecerdasan buatan membantu menganalisis jutaan data operasi, teknologi laser memantau karakter material sebelum proses penggilingan, sementara slag concentrator mengambil kembali kandungan tembaga dan emas dari sisa peleburan.
Pada akhirnya, konsentrat yang berhasil dipulihkan akan masuk ke fasilitas hilir untuk diolah menjadi produk bernilai tambah berupa katoda tembaga, emas, perak, selenium, dan asam sulfat.
“Setiap ton bijih yang ditambang menyimpan mineral berharga. Namun, tidak semua mineral tersebut berhasil dipulihkan selama proses pengolahan,” tulis AMMAN dalam publikasi tentang pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan perolehan mineral, Rabu 8/7/2026.
Dalam konteks hilirisasi, ukuran keberhasilan pertambangan tidak lagi hanya dilihat dari jumlah batuan yang dipindahkan dari tambang. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa banyak mineral bernilai yang berhasil dipulihkan, seberapa efisien sumber daya digunakan, serta seberapa besar dampak lingkungan dapat dikendalikan.
Di Batu Hijau, kehilangan nilai dapat terjadi pada beberapa titik utama: saat bijih mengalami perubahan sebelum flotasi, ketika parameter proses belum optimal, dan ketika residu peleburan masih mengandung logam bernilai. Karena itu, AMMAN menempatkan teknologi pada setiap titik kritis tersebut.
Namun, teknologi bukan satu-satunya faktor penentu. Data tetap membutuhkan manusia yang mampu membaca kondisi lapangan, mengevaluasi rekomendasi sistem, dan mengambil keputusan operasional.
Tahun Transisi Batu Hijau
Tahun 2025 menjadi periode transisi penting bagi operasi Batu Hijau. Di satu sisi, perusahaan menghadapi perubahan karakter tambang; di sisi lain, AMMAN terus mendorong peningkatan nilai melalui teknologi dan hilirisasi.
Dari sisi produksi, terjadi penurunan produksi tembaga dan emas dalam konsentrat dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi tembaga turun dari 394,9 juta pon pada 2024 menjadi 208,9 juta pon pada 2025. Sementara produksi emas dalam konsentrat turun dari 802,7 ribu ons menjadi 102,8 ribu ons.
Penurunan tersebut juga terlihat dari kadar mineral. Kadar tembaga rata-rata bijih yang diolah turun dari 0,65 persen pada 2024 menjadi 0,48 persen pada 2025. Kadar emas turun dari 0,53 gram per ton menjadi 0,36 gram per ton.

Diolah Warta Ekonomi
Namun, angka tersebut tidak dapat dibaca hanya sebagai penurunan kinerja teknologi. Tahun 2025 merupakan masa transisi Batu Hijau menuju Fase 8, ketika aktivitas penambangan masih dipengaruhi proses pengupasan batuan penutup, perubahan urutan penambangan, serta perubahan karakteristik bijih.
Direktur Utama PT Amman Mineral Nusa Tenggara, Rachmat Makkasau, menjelaskan bahwa peningkatan produksi akan terjadi ketika perusahaan mulai mengambil lebih banyak bijih pada periode berikutnya.
Baca Juga: Dari Perut Bumi Sumbawa, Menggali Harapan untuk Masa Depan Indonesia
“Dalam tiga tahun ke depan terdapat peningkatan produksi, dikarenakan mulai akan lebih banyak mengambil ore,” kata Rachmat dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/72026).
Perubahan karakter bijih tersebut membuat kemampuan recovery menjadi semakin penting. Ketika kadar logam menurun, setiap mineral yang tidak berhasil dipulihkan berarti nilai yang tertinggal semakin besar dalam rantai proses.
Mengejar Nilai di Titik Kritis Pengolahan
Salah satu tantangan terbesar dalam pengolahan bijih berada pada tahap flotasi. Bijih yang tersimpan di stockpile dapat mengalami oksidasi sebelum diproses. Kondisi tersebut membuat mineral tembaga lebih sulit dipisahkan melalui proses flotasi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim Metallurgy AMMAN mengembangkan penerapan Controlled Potential Sulfidisation (CPS) dengan sensor Oxidation Reduction Potential (ORP).
Sensor ORP berfungsi membaca kondisi kimia slurry secara real-time. Data tersebut membantu menentukan dosis natrium hidrosulfida (NaHS), yaitu reagen yang digunakan untuk membantu proses pemisahan mineral.
Penggunaan NaHS harus dilakukan secara presisi. Dosis yang terlalu rendah dapat menyebabkan mineral tidak pulih secara optimal, sementara dosis berlebih meningkatkan konsumsi bahan kimia tanpa memberikan peningkatan pemisahan mineral yang sebanding.
Menurut AMMAN, penerapan CPS-ORP meningkatkan recovery tembaga secara signifikan dan menurunkan konsumsi bahan kimia hingga 18,3 persen.
Didit, anggota tim Metallurgy AMMAN dan putra daerah Sumbawa Barat, mengatakan inovasi tersebut lahir dari persoalan teknis yang ditemukan dalam aktivitas sehari-hari di fasilitas pengolahan.
“Di AMMAN, kami didorong untuk terus termotivasi menjadi lebih baik lagi dan tidak cepat puas. Budaya kerja yang sangat mendukung, seperti semangat kerja sama dan dukungan para pimpinan juga menjadi kunci untuk melahirkan inovasi ini,” kata Didit dalam artikel resmi AMMAN, Senin (25/5/2026).
Karya tim Metallurgy AMMAN mengenai CPS-ORP kemudian dipresentasikan pada MetPlant 2026 di Adelaide, Australia, dan meraih penghargaan Best Paper. Didit menyebut inovasi tersebut sebagai bukti bahwa kemampuan teknis dari daerah dapat menghasilkan karya yang mendapat pengakuan internasional.
“Perusahaan memberikan ruang luas bagi kami untuk terus berinovasi menciptakan sistem yang paling efektif. Bagi saya, ini adalah bukti bahwa semangat lokal dari Sumbawa Barat bisa menghasilkan karya teknis yang diakui secara global,” lanjut Didit.
Mengubah Data Operasi Menjadi Keputusan
Selain mengoptimalkan kondisi kimia dalam proses flotasi, AMMAN juga menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu pengambilan keputusan di ruang kendali.
Perusahaan mengembangkan Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA), sebuah sistem pendukung keputusan berbasis kecerdasan buatan yang memanfaatkan lebih dari 25 tahun data operasi, jutaan data historis, serta data real-time dari aktivitas pengolahan mineral.

Salah satu fitur AIDA, yaitu Set Point Optimizer, memberikan rekomendasi terhadap berbagai parameter proses, termasuk pengaturan dosis reagen dan laju aliran air.
Sistem tersebut tidak bekerja secara otomatis menggantikan operator. Rekomendasi yang dihasilkan tetap ditinjau oleh tim operasi dan metallurgy setiap empat jam sebelum penyesuaian parameter dilakukan.
Melalui pendekatan tersebut, teknologi berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat analisis, sementara keputusan akhir tetap berada pada tenaga ahli yang memahami kondisi proses.
Vice President Corporate Communications AMMAN Kartika Octaviana mengatakan AIDA menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga konservasi sumber daya mineral.
“AIDA mencerminkan budaya AMMAN yang selalu terdorong untuk terus menjadi lebih baik. Melalui transformasi digital, kami tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat komitmen terhadap konservasi sumber daya mineral,” ujar Kartika dalam publikasi AMMAN, Rabu (8/7/2026).
Menurut AMMAN, kombinasi penyempurnaan proses dan optimasi berbasis AIDA meningkatkan mineral recovery sekitar 2,5 persen.
Baca Juga: Perahu Listrik Jadi Andalan Wisata dan Penggerak Ekonomi Warga Rammang-Rammang
Namun, peningkatan recovery tersebut tidak dapat disamakan dengan peningkatan produksi tahunan. Produksi tambang tetap dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti kadar mineral (grade), volume bijih yang diolah, urutan penambangan, dan fase operasi tambang.
Kartika menegaskan bahwa keberhasilan teknologi bukan hanya bergantung pada sistem digital, tetapi juga pada kemampuan manusia dalam memanfaatkan informasi yang tersedia.
“Keberhasilan inisiatif ini bukan hanya terletak pada teknologinya, melainkan pada sinergi antara data, inovasi, dan keahlian tim kami. Ketika teknologi dan pengalaman manusia berjalan beriringan, kami mampu menghasilkan keputusan yang lebih baik dan menciptakan nilai yang lebih besar,” sambung Kartika.
Membaca Material Sebelum Masuk Penggilingan
Tahap berikutnya berada sebelum proses penggilingan. Pada titik ini, karakter material harus dipahami agar proses berjalan lebih stabil.
AMMAN menggunakan teknologi 3D Particle Size Measurement (3DPM) berbasis laser pada jalur conveyor sebelum SAG Mill. Teknologi tersebut membaca bentuk, ukuran, dan volume material secara real-time.
Tujuannya adalah mendeteksi lebih awal material berukuran ekstrem maupun benda asing yang berpotensi mengganggu proses penggilingan.
Dengan informasi tersebut, operator dapat mengetahui kondisi material sebelum masuk ke tahap berikutnya, sehingga risiko gangguan proses dapat dikurangi.
Victor dari tim Metallurgy AMMAN mengatakan penerapan teknologi tersebut berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan.
“Implementasi teknologi 3DPM menunjukkan bagaimana inovasi dapat lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Kami tidak hanya mengadopsi teknologi baru, tetapi juga mengembangkannya agar sesuai dengan kondisi operasional kami,” kata Victor dalam artikel AMMAN, Senin (8/6/2026).
Mengambil Kembali Mineral dari Sisa Peleburan
Upaya mengejar nilai tidak berhenti setelah proses pengolahan bijih. Bahkan setelah peleburan, masih terdapat peluang untuk mengambil kembali mineral yang tertinggal.
AMMAN menggunakan slag concentrator untuk memulihkan kandungan tembaga dan emas dari discard slag, yaitu material sisa proses peleburan.
Mineral yang berhasil dipisahkan kemudian dikembalikan ke dalam rantai proses sehingga upaya recovery tidak berhenti pada pabrik pengolahan, tetapi berlanjut hingga tahap hilir.
Jika dirangkum, setiap teknologi memiliki perannya masing-masing:
-
Sensor ORP membaca perubahan kondisi kimia slurry.
-
AIDA mengolah data operasi menjadi rekomendasi keputusan.
-
Laser 3DPM memantau karakter material sebelum penggilingan.
-
Slag concentrator mengambil kembali mineral yang masih tersisa setelah peleburan.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kehilangan nilai mineral tidak terjadi hanya pada satu titik, sehingga tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu teknologi.
Ketika Konsentrat Menjadi Katoda
Setelah mineral berhasil dipulihkan melalui rangkaian proses pengolahan, tahap berikutnya adalah mengubah konsentrat menjadi produk bernilai tambah melalui fasilitas smelter AMMAN di Sumbawa Barat.
Smelter tersebut menggunakan Double Flash Smelting Technology, yang terdiri dari proses flash smelting furnace dan flash converting furnace. Teknologi ini digunakan untuk mengolah konsentrat menjadi katoda tembaga dengan tingkat kemurnian 99,99 persen.
Selain menghasilkan tembaga, fasilitas tersebut juga menghasilkan produk samping bernilai seperti emas, perak, selenium, dan asam sulfat.
Smelter AMMAN dirancang untuk mengolah hingga 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun.
Pada kapasitas desain, fasilitas tersebut mampu menghasilkan hingga:
-
220.000 ton katoda tembaga per tahun
-
830.000 ton asam sulfat per tahun
Sementara itu, fasilitas Precious Metals Refinery (PMR) yang terintegrasi dengan smelter dirancang untuk mengolah sekitar 970 ton lumpur anoda per tahun.
Produk desain PMR meliputi:
-
hingga 579 ribu ons emas murni per tahun
-
hingga 1,8 juta ons perak murni per tahun
-
hingga 77 ton selenium per tahun
Total investasi pembangunan smelter dan PMR mencapai sekitar US$1,4 miliar.

Ramp-up Smelter dan Tantangan Hilirisasi
Pembangunan smelter menjadi bagian penting dari upaya AMMAN meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri. Namun, fasilitas tersebut tidak langsung mencapai kapasitas penuh setelah selesai dibangun. Tahap berikutnya adalah proses commissioning dan ramp-up untuk memastikan seluruh sistem berjalan sesuai desain.
Tahap commissioning smelter AMMAN dimulai pada 2024. Produksi anoda tembaga pertama berlangsung pada Februari 2025, disusul produksi katoda pertama pada Maret 2025. Pengiriman perdana katoda tembaga dilakukan pada April 2025, sementara emas murni pertama dihasilkan pada Juli 2025 dan produksi perak murni dimulai pada Oktober 2025.
Pada tahun pertama fase ramp-up, produksi katoda menunjukkan peningkatan bertahap.
Produksi katoda meningkat dari:
-
635 ton pada kuartal I 2025
-
19.170 ton pada kuartal II 2025
-
21.247 ton pada kuartal III 2025
-
38.797 ton pada kuartal IV 2025
Secara keseluruhan, produksi katoda sepanjang 2025 mencapai 79.849 ton. Pada periode yang sama, fasilitas PMR menghasilkan 124.723 ons emas murni.
Direktur Utama PT Amman Mineral Nusa Tenggara Rachmat Makkasau mengatakan smelter mulai kembali beroperasi pada April 2026 setelah melalui proses perbaikan dan ramp-up. Pada akhir Juni 2026, fasilitas tersebut telah mampu mengolah seluruh produksi tambang.
“Sekitar April 2026 smelter mulai beroperasi, proses ramping up berjalan baik sehingga akhir Juni 2026 kami sudah bisa memproses seluruh produksi tambang,” kata Rachmat dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Hilirisasi mineral pada akhirnya bukan hanya mengenai keberadaan fasilitas pemurnian. Smelter mengolah konsentrat yang sebelumnya berhasil dipulihkan melalui rangkaian proses panjang di tambang dan pabrik pengolahan.
Karena itu, nilai tambah tidak dimulai ketika tungku smelter dinyalakan, tetapi sejak mineral dibaca, dipisahkan, dipulihkan, dan dikelola secara efisien.
Anggota Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menilai pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah.
Baca Juga: Dari Perahu BBM ke Listrik, Wajah Baru Wisata Geopark Rammang-Rammang
“Kebijakan hilirisasi mineral di dalam negeri merupakan langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil pengolahan dan atau pemurnian mineral,” kata Bambang dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI bersama AMNT dan PT Freeport Indonesia, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Tembaga kini menjadi salah satu mineral paling strategis di tengah percepatan elektrifikasi dunia. Logam ini menjadi komponen penting bagi kendaraan listrik, energi terbarukan, jaringan listrik, pusat data, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dalam studi Copper in the Age of AI: Challenges of Electrification, S&P Global memperkirakan kebutuhan tembaga global akan meningkat sekitar 50 persen, dari 28,3 juta metrik ton pada 2025 menjadi sekitar 42,4 juta metrik ton pada 2040.
Harta Mineral dan Ujian Akuntabilitas
Potensi mineral Indonesia menjadi alasan utama mengapa penguasaan teknologi pengolahan semakin penting.
Berdasarkan Laporan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia per Desember 2024, sumber daya bijih emas primer Indonesia mencapai sekitar 17,2 miliar ton, dengan cadangan sebesar 3,46 miliar ton.
Kandungan logam emasnya diperkirakan setara:
-
12.364 ton pada kategori sumber daya
-
3.444 ton pada kategori cadangan
Untuk komoditas tembaga, sumber daya nasional tercatat sekitar 18,336 miliar ton, dengan cadangan sekitar 2,86 miliar ton.
Besarnya sumber daya tersebut membuat persoalan recovery menjadi semakin penting. Mineral yang berada di bawah tanah tidak otomatis berubah menjadi nilai ekonomi apabila kemampuan pemulihan, pengolahan, pemurnian, dan pengelolaan dampaknya tidak berkembang secara bersamaan.
Pemerintah kemudian mendorong agar mineral tidak hanya berhenti sebagai komoditas mentah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah akan mempertahankan larangan ekspor untuk sejumlah komoditas mineral, termasuk tembaga.
“Untuk ke depan, kan sudah ada beberapa komoditas yang harus kita tetap pertahankan pelarangannya di antaranya bauksit, kemudian tembaga,” kata Bahlil seusai peluncuran dan bedah buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater, Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Menurut Bahlil, pembangunan industri dalam negeri menjadi syarat penting dalam transformasi ekonomi.
“Dalam rangka melakukan transformasi ekonomi memang kita tidak ada cara lain, harus ada industri dalam negeri. Dan industri dalam negeri itu menciptakan nilai tambah, menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno juga menilai mineral kritis memiliki posisi strategis karena berkaitan dengan ketahanan energi.
“Perubahan geopolitik telah menjadikan mineral kritis semakin strategis dan tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertambangan, tapi telah menjadi bagian penting dari ketahanan energi,” kata Tri di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Pada semester I 2026, investasi hilirisasi mineral tercatat mencapai Rp206,5 triliun. Namun, investasi tersebut tidak cukup hanya menghasilkan fasilitas produksi. Pemerintah menekankan bahwa kegiatan pertambangan dan pengolahan mineral tetap harus berjalan berdasarkan good mining practices, termasuk keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, efisiensi energi, reklamasi, pascatambang, serta pengelolaan limbah.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional Nunung Nuryartono menilai hilirisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan smelter.
“Hilirisasi bukan sekadar membangun lebih banyak smelter. Hilirisasi adalah membangun kecerdasan dan akuntabilitas pada setiap tahapan rantai nilai industri,” kata Nunung dalam Seminar Internasional Intelligent Manufacturing and Sustainability in Minerals Industries, Kamis (30/7/2026).
Ketika Teknologi Diuji oleh Air dan Tailing
Keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari jumlah katoda tembaga atau nilai ekonomi yang dihasilkan. Teknologi juga diuji dari bagaimana industri menggunakan energi, mengelola air, mengendalikan bahan kimia, serta menangani residu tambang.

AMMAN mencatat penggunaan energi terbarukan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pemanfaatan energi terbarukan naik dari 2.329.422 gigajoule pada 2023 menjadi 3.720.885 gigajoule pada 2025, atau meningkat sekitar 60 persen dalam dua tahun.
Pada 2025, intensitas energi perusahaan tercatat sebesar 50,5 gigajoule per ton konsentrat.
Dari sisi air, pengambilan air AMMAN pada 2025 tercatat sebesar 275.179 ribu meter kubik, turun dibandingkan 300.805 ribu meter kubik pada 2024. Perusahaan juga mencatat bahwa 99 persen kebutuhan air tambang pada 2025 berasal dari sumber bukan air tawar.
Namun, perubahan angka tersebut perlu dibaca secara menyeluruh. Penurunan penggunaan air tidak dapat langsung disimpulkan hanya sebagai dampak digitalisasi atau teknologi baru, karena volume material yang ditambang dan bijih yang diolah pada 2025 juga mengalami penurunan.
Karena itu, evaluasi teknologi pengolahan ke depan perlu melihat indikator yang lebih spesifik, seperti intensitas penggunaan reagen, konsumsi air dan energi per ton bijih maupun per ton konsentrat, serta data karakteristik tailing dan hasil pemantauan kualitas lingkungan.
Dalam pengelolaan tailing, AMMAN menerapkan Deep Sea Tailing Placement (DSTP).
Dalam sistem tersebut, slurry tailing terlebih dahulu dialirkan menuju tangki de-aerator untuk mengurangi gelembung udara sebelum masuk ke pipa bawah laut. Mekanisme tersebut bertujuan agar material memiliki massa jenis lebih besar dibandingkan air laut sehingga dapat mengendap pada lapisan yang lebih dalam.
AMMAN menyebut penerapan DSTP didukung oleh kajian hidrodinamika laut, sedimentasi, serta pemantauan kualitas lingkungan secara berkelanjutan. Pada 2025, total limbah mineral dan non-mineral tercatat sebesar 275,18 juta ton, turun dari 329,21 juta ton pada 2024.
Namun, perubahan jumlah limbah tersebut juga perlu dikaitkan dengan penurunan volume material yang ditambang dan bijih yang diolah, bukan hanya dianggap sebagai hasil dari inovasi pengelolaan limbah.
Di sisi pemulihan lahan, luas reklamasi meningkat dari:
-
55,02 hektare pada 2023
-
79,57 hektare pada 2024
-
92,67 hektare pada 2025
Pada 2026, AMMAN memperoleh predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa pengembangan industri harus terbuka terhadap teknologi yang lebih baik dan lebih efisien.
“Kalau hari ini terjadi perkembangan teknologi, kita bisa mendapat teknologi yang lebih bagus, teknologi yang lebih murah, menghasilkan sesuatu yang lebih untung bagi rakyat, kita harus berani mengubah rencana,” kata Prabowo saat groundbreaking proyek hilirisasi nasional tahap II di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga: Kemenperin Buka Penghargaan Industri Hijau 2026, Tiga Kategori Disiapkan
Prabowo juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan berbasis perhitungan.
“Kaji terus teknologi, lihat. Matematis, matematis, matematis. Tidak ada kepentingan lain. Yang paling efisien, menguntungkan rakyat, itu yang harus dijalankan,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Dalam konteks Batu Hijau, teknologi tidak cukup dinilai hanya dari peningkatan recovery. Ukuran keberhasilan juga harus terlihat dari bagaimana perusahaan mengelola penggunaan energi, air, bahan kimia, tailing, dan dampak lingkungan secara terukur.
Pengetahuan yang Tinggal di Sumbawa
Pada akhirnya, nilai dari industri mineral tidak hanya berada pada jumlah produksi logam yang dihasilkan. Nilai tersebut juga ditentukan oleh kemampuan manusia yang menjalankan teknologi, mengembangkan pengetahuan, dan membangun kapasitas daerah.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengatakan Indonesia tidak cukup hanya menjadi pemilik sumber daya mineral, tetapi harus mampu mengembangkan kekayaan tersebut melalui ilmu pengetahuan.
“Dari sisi sumber daya, Indonesia adalah pemain utamanya, tetapi kita perlu buktikan bahwa kita bisa mengembangkan sumber daya tersebut dengan ilmu pengetahuan,” kata Brian dalam Seminar dan Konvensi Nasional Badan Keahlian Teknik Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Brian juga mengingatkan risiko middle technology trap, yaitu kondisi ketika suatu negara berhenti pada penguasaan teknologi tingkat menengah dan tidak mampu berkembang menuju kemampuan teknologi yang lebih tinggi.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah menjadi penting untuk memperkuat riset terapan serta sumber daya manusia.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi Sumbawa Barat. Bupati Sumbawa Barat Amar Nurmansyah mengatakan sekitar 80 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah masih bergantung pada sektor pertambangan.
Namun, sektor non-tambang juga menunjukkan pertumbuhan positif, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 7–8 persen per tahun.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB I Gede Putu Aryadi menilai tenaga kerja lokal memiliki peluang besar untuk mengisi kebutuhan keterampilan tingkat menengah dalam industri pertambangan.
“Untuk yang middle skill pasti orang NTB, karena dia lebih efisien. Kalau untuk pekerja asing, bisa kami pantau, karena izin bekerjanya ada, jadi mudah kami pantau keluar masuknya,” kata I Gede Putu Aryadi dalam keterangan yang dimuat Warta Ekonomi pada 31 Agustus 2026.
Dari sisi ekonomi nasional, kajian LPEM FEB UI mencatat aktivitas operasional AMMAN selama periode 2018–2024 memberikan kontribusi sekitar:
-
Rp173,4 triliun terhadap Produk Domestik Bruto nasional
-
Rp67,6 triliun terhadap pendapatan rumah tangga
Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI Uka Wikarya mengatakan dampak ekonomi tersebut muncul melalui rantai pasok yang luas.
“Kegiatan operasional AMMAN menciptakan rangkaian efek berganda yang luas. Misalnya, kebutuhan penyediaan makanan bagi ribuan karyawan turut menghidupkan usaha para petani, peternak, dan penyedia bahan pangan lokal,” ujar Uka.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch Ferdy Hasiman menilai investasi hilirisasi membutuhkan kepastian kebijakan agar manfaat ekonominya dapat berkembang lebih besar.
“Mereka sudah investasi besar untuk hilirisasi, makanya kita harus terus dukung operasi mereka, jangan dibebankan dengan peraturan-peraturan dan kebijakan yang memberatkan. Biar produksi mereka bagus dan multiplier effect mereka itu gede,” kata Ferdy kepada Warta Ekonomi pada 30 Agustus 2026.
Nilai yang Tidak Berhenti di Tambang
Batu Hijau Fase 8 diproyeksikan beroperasi hingga 2030. Pada saat yang sama, AMMAN juga menyiapkan pengembangan Proyek Elang sebagai tahap berikutnya dalam portofolio tambang perusahaan.
Pengalaman meningkatkan recovery, melakukan digitalisasi operasi, memulihkan mineral dari slag, serta membangun fasilitas hilir menjadi modal penting untuk menghadapi fase berikutnya.
Namun, nilai yang tinggal di Sumbawa Barat tidak hanya dapat dihitung dari jumlah katoda, emas murni, investasi, atau transaksi rantai pasok.
Nilai jangka panjang juga berada pada kemampuan manusia memahami proses metalurgi, membaca data sensor, mengevaluasi rekomendasi kecerdasan buatan, mengelola sumber daya, dan memastikan teknologi dapat dipertanggungjawabkan.
Di Batu Hijau, tembaga yang hampir hilang tidak selalu terlihat.
Ia dapat tertinggal dalam bijih yang teroksidasi, slurry yang berubah, slag yang masih menyimpan logam, atau keputusan yang terlambat dibuat.
Sensor ORP membantu membaca perubahan kimia. AIDA mengubah jutaan data menjadi rekomendasi. Laser 3D memantau material sebelum penggilingan. Slag concentrator mengambil kembali mineral dari residu peleburan. Smelter kemudian mengubah konsentrat menjadi katoda tembaga, emas, perak, selenium, dan asam sulfat.
Namun, seluruh teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia.
Pada akhirnya, kekayaan mineral dari perut bumi Sumbawa tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak logam yang berhasil diproduksi, tetapi oleh bagaimana teknologi, pengetahuan, dan tanggung jawab berjalan bersama untuk menciptakan nilai yang bertahan lebih lama.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: