- Home
- /
- New Economy
- /
- CSR
Hengjaya Mineralindo dan APAD Indonesia Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Masyarakat Pesisir Morowali
Kredit Foto: Istimewa
Penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana merupakan salah satu aspek penting dalam membangun komunitas yang tangguh dan berkelanjutan. Sejalan dengan komitmen tersebut, Hengjaya Mineralindo (HM) bersama Asia Pacific Alliance for Disaster Management (APAD) Indonesia menyelenggarakan simulasi tanggap kebencanaan di Desa One Ete, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali. Kegiatan ini difokuskan pada pemetaan jalur evakuasi serta sosialisasi mitigasi tsunami sebagai upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.
Sebanyak 13 peserta, yang terdiri dari masyarakat lokal, pemerintah desa, dan tim Emergency Response Team (ERT) PT Hengjaya Mineralindo, mengikuti rangkaian kegiatan yang difasilitasi langsung oleh trainer APAD Indonesia. Melalui pendekatan partisipatif, peserta tidak hanya menerima materi mengenai kebencanaan, tetapi juga terlibat langsung dalam mengidentifikasi risiko dan menyusun langkah-langkah mitigasi yang relevan dengan kondisi lingkungan mereka.
Menurut Faisal Djalal, APAD Indonesia Leader, keterlibatan masyarakat merupakan kunci utama dalam membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
"Ketahanan terhadap bencana tidak dibangun saat bencana terjadi, tetapi jauh sebelumnya melalui pengetahuan, latihan, dan keterlibatan masyarakat. Karena itu kami mendorong pendekatan partisipatif, di mana warga tidak hanya menerima informasi, tetapi turut memetakan risiko dan solusi yang ada di lingkungannya sendiri. Dengan cara ini, kesiapsiagaan menjadi bagian dari budaya masyarakat."
Kegiatan diawali dengan diskusi bersama Pemerintah Desa dan masyarakat Desa One Ete untuk mengidentifikasi kondisi masyarakat, riwayat bencana selama 10 tahun terakhir, tingkat pengetahuan masyarakat terkait kesiapsiagaan bencana, serta menghasilkan kalender musim tahunan untuk mendukung aktivitas melaut dan bertani yang lebih aman, pembentukan Kelompok Masyarakat Siaga Bencana sebagai upaya peningkatan kapasitas, dan penetapan jalur evakuasi beserta titik kumpul aman sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan bencana desa.
Faisal menambahkan bahwa pemetaan jalur evakuasi yang dilakukan secara bersama-sama tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai langkah penyelamatan yang perlu dilakukan, tetapi juga memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan di tingkat desa ketika menghadapi kondisi darurat.
Pentingnya penguatan kapasitas masyarakat pesisir juga disampaikan oleh Prof. Krishna, pakar kebencanaan purna bakti dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Menurutnya, wilayah pesisir membutuhkan pendekatan yang mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan kesiapan masyarakat di tingkat lokal agar risiko bencana dapat diminimalkan secara efektif.
"Dalam kejadian tsunami, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Jalur evakuasi yang jelas, pemahaman masyarakat terhadap risiko, dan latihan yang dilakukan secara berkala akan sangat memengaruhi efektivitas penyelamatan. Karena itu, simulasi seperti ini merupakan investasi penting untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana."
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan mengingat Desa One Ete merupakan salah satu desa lingkar tambang PT Hengjaya Mineralindo yang berada di kawasan pesisir Morowali. Karakteristik geografis tersebut menjadikan kesiapsiagaan sebagai aspek penting dalam upaya perlindungan masyarakat, sehingga diperlukan kolaborasi berbagai pihak untuk memastikan masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai dalam menghadapi potensi bencana.
Sementara itu, Rezza Rizky, ERT Hengjaya Leader, menekankan bahwa kesiapsiagaan yang efektif hanya dapat terwujud melalui koordinasi dan pemahaman yang sama antara masyarakat, pemerintah desa, dan tim tanggap darurat.
"Dalam situasi bencana, setiap menit memiliki arti penting. Melalui simulasi ini, kami ingin memastikan masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan, ke mana harus bergerak, dan bagaimana berkoordinasi dengan tim tanggap darurat. Kesiapan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi hasil dari kolaborasi seluruh elemen yang ada di lapangan."
Melalui kolaborasi dengan APAD Indonesia, PT Hengjaya Mineralindo berharap masyarakat Desa One Ete memiliki pemahaman yang lebih baik tentang risiko bencana, sekaligus kemampuan untuk merespons dengan cepat dan tepat apabila kondisi darurat benar-benar terjadi. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan masyarakat yang tangguh, aman, dan berdaya melalui penguatan kapasitas masyarakat serta kolaborasi multipihak untuk mengurangi risiko bencana.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Editor: Redaksi
Tag Terkait: