Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.903 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Proyeksi IMF

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.903 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Proyeksi IMF Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp170.903 atau melemah tipis 3 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp170.900 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pelemahan rupiah terdorong sentimen proyeksi dari lembaga internasional. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,0% ke 5,1% pada 2026.

 Namun, tingkat inflasi diproyeksikan naik hingga ke 3,3% (YoY). Lembaga tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari laporan sebelumnya pada Juli 2026 yakni 5,0%.  

"Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berdasarkan laporan edisi Oktober tidak berubah dari edisi Juli yakni 5,1%," kata dia kepada wartawan.

IMF menyoroti dua kekuatan transformatif yang membentuk kembali ekonomi global yaitu geopolitik dan teknologi. Setiap negara dinilai memiliki dampak paparan berbeda dari sisi ekonomi tergantung dari kedekatan dengan wilayah konflik maupun sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas. 

"Tidak hanya itu, situasi ekonomi setiap negara berbeda tergantung pada kemampuan mereka memanfaatkan lonjakan sektor kecerdasan buatan (artifical intelligence/AI)," kata dia.

Baca Juga: IMF Ramal Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1% pada 2026 dan 2027

Baca Juga: Sebelum Dicopot, Purbaya: Negara Tak Perlu Pinjam IMF jika Hadapi Bencana Besar

Adapun pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 sebesar 5,4%. Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyebut pertumbuhan ekonomi di atas 5,5% baik kuartal III/2026 dan kuartal IV/2026 masih bisa tercapai.  Selama semester I/2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45% atau tertinggi dalam beberapa tahun belakangan. Capaian pertumbuhan ekonomi menanjak pada kuartal I/2026 dengan torehan sebesar 5,61%. 

Sementara itu, defisit transaksi berjalan Indonesia atau current account deficit (CAD) diproyeksikan melebar ke 1,6% terhadap PDB dari 0,1% terhadap PDB pada 2025. Defisit ini diprakirakan baru mengalami normalisasi lagi pada 2027 ke 1% terhadap PDB.  Proyeksi CAD oleh IMF ini lebih besar dari proyeksi Bank Indonesia (BI) yaitu 1,3% sampai dengan 0,5% terhadap PDB. 

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: