Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Serap 27,4 Juta Tenaga Kerja, Menparekraf: Industri Kreatif Buka Peluang Ekonomi bagi Generasi Muda

Serap 27,4 Juta Tenaga Kerja, Menparekraf: Industri Kreatif Buka Peluang Ekonomi bagi Generasi Muda Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Bandung -

Industri kreatif semakin berperan dalam membuka peluang kerja bagi generasi muda di tengah perkembangan ekonomi digital.

Sektor ini dinilai mampu menawarkan alternatif pekerjaan yang lebih fleksibel sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan dari keterampilan dan kreativitas.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan sektor ekonomi kreatif telah menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja, dengan pertambahan sekitar 1,5 juta tenaga kerja setiap tahun.

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi industri kreatif dalam mendukung penciptaan lapangan kerja dan memperluas kesempatan ekonomi, terutama bagi generasi Z dan milenial yang semakin akrab dengan teknologi digital.

Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki kecenderungan memilih pekerjaan berdasarkan minat atau passion, fleksibilitas waktu, serta potensi penghasilan yang menjanjikan.

Perubahan preferensi tersebut sejalan dengan berkembangnya platform digital yang memungkinkan masyarakat memonetisasi keterampilan, mulai dari produksi konten hingga profesi pengisi suara atau voice over.

"Anak muda sekarang ingin bekerja sesuai passion-nya, memiliki fleksibilitas, dan mendapatkan penghasilan yang tinggi," kata Riefky Dalam pemaparannya di Telkom University, Kamis (15/10/2026)

Salah satu bidang yang dinilai memiliki peluang untuk berkembang di era digital adalah profesi voice-over talent. Meski bukan pekerjaan baru, kebutuhan terhadap keterampilan pengisi suara berpotensi meluas seiring meningkatnya aktivitas produksi konten digital.

Kementerian Ekonomi Kreatif juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan pelaku industri untuk memperkuat ekosistem profesi tersebut. Upaya ini mencakup pengembangan kompetensi, perluasan akses terhadap peluang kerja, serta penguatan organisasi profesi.

Kolaborasi dengan Voice Institute Indonesia menjadi salah satu bentuk upaya pengembangan tersebut. Kerja sama yang telah berlangsung sejak 2022 itu diarahkan untuk memperkenalkan potensi profesi pengisi suara sekaligus mendorong pemanfaatan keterampilan sebagai sumber nilai ekonomi.

Pengembangan kompetensi ini juga berpotensi menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas, termasuk kalangan santri.

Melalui program pengenalan teknologi dan industri kreatif di lingkungan pesantren, peserta diperkenalkan pada keterampilan pengisi suara yang dapat dikembangkan menjadi peluang kerja maupun sumber pendapatan tambahan.

Selain menjadi pengisi suara profesional, keterampilan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas sebagai kreator konten di berbagai platform digital.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya berfokus pada pertumbuhan industri, tetapi juga pada upaya memperluas akses masyarakat terhadap peluang ekonomi berbasis keterampilan.

Penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan industri kreatif. Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk menghubungkan pendidikan, pengembangan keterampilan, dan kebutuhan industri.

Telkom University menjadi salah satu perguruan tinggi yang mendapat apresiasi atas keterlibatannya dalam pengembangan industri kreatif. Sejak 2013, kampus tersebut telah mengembangkan pendidikan di bidang komunikasi dan industri kreatif.

Selain itu, Telkom University turut terlibat dalam konsorsium perguruan tinggi ekonomi kreatif yang dibentuk untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan sektor tersebut.

Baca Juga: Jajaki Kerja Sama Industri Kreatif Indonesia dengan Hollywood, Amin Nazar Buka Peluang Kolaborasi

Konsorsium yang awalnya melibatkan delapan perguruan tinggi swasta itu disebut telah berkembang menjadi 16 kampus. Perluasan keanggotaan tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia dan industri kreatif di berbagai daerah.

Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi juga diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan industri.

Dengan dukungan pendidikan, pelatihan, dan ekosistem usaha yang memadai, industri kreatif berpotensi menjadi salah satu alternatif pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda.

Pengembangan sektor ini pun tidak hanya bergantung pada kreativitas individu, tetapi juga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku industri agar potensi ekonomi digital dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman