Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Nggak Nyangka! Pengamat Sebut Pengaruh Habib Rizieq di Pemilu 2019 Hanya Satu Persen!

        Nggak Nyangka! Pengamat Sebut Pengaruh Habib Rizieq di Pemilu 2019 Hanya Satu Persen! Kredit Foto: Antara/Fauzan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Setelah bebas, manuver Habib Rizieq khususnya terkait pilpres 2024 ditunggu-tunggu, tetapi apakah Habib Rizieq masih punya pengaruh di 2024?

        Mengenai hal ini, Pengamat Politik Dedi Kurnia Syah meyakini eks Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab (HRS) masih punya pengaruh politik pada Pemilu 2024.

        “Tentu masih ada, tetapi tidak sampai mempengaruhi peta politik,” ujar Dedi kepada GenPI.co, Rabu (3/8).

        Menurutnya, HRS sebenarnya tidak pernah miliki daya pengaruh peta politik, bahkan dalam Pemilu 2019.

        “Pengaruh suara maksimum yang dihasilkan HRS pada Pemilu 2019 hanya sekitar 1 persen, padahal itu bisa menjadi momentum bagi pergerakan politiknya,” tuturnya.

        Oleh sebab itu, dirinya menduga HRS akan memberi pengaruh lebih kecil pada Pemilu 2024.

        Meski demikian, Dedi menduga HRS masih berpotensi memberi dukungan kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto seperti Pemilu 2019.

        Baca Juga: Lagi! Kader PSI Nyatakan Dukung Anies Baswedan, Analisis Rocky Gerung Tajam: Di dalam Dia Mulai Gerah!

        “Bisa saja ke Prabowo lagi. Menurut saya, HRS hanya terlihat tidak akan mengarahkan dukungannya dan berafiliasi PDIP,” ucapnya.

        Selain Prabowo, menurut Dedi, HRS juga berpotensi memberi dukungan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

        “Akan tetapi, tokoh-tokoh sekaliber Prabowo dan Anies sepertinya tidak akan mendapat pengaruh signifikan jika didukung HRS,” kata dia.

        Baca Juga: Analisis Rocky Gerung Bisa Bikin Panas Pendukung Anies Baswedan! Sebut Kemungkinan Anies Masuk Cengkraman Oligarki, Simak!

        Kemudian, Dedi juga menyoroti soal polarisasi politik yang terjadi setelah pemilu. Menurutnya, HRS bukan orang yang bisa memicu peristiwa tersebut.

        “Sejak 2014 polarisasi politik telah mengemuka. HRS justru jadi korban polarisasi. Aktor polarisasi itu sudah pasti politisi, bukan gerakan sipil seperti HRS,” ujar Dedi Kurnia Syah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Bayu Muhardianto

        Bagikan Artikel: