
Hustle culture adalah gaya hidup seseorang yang terus bekerja dan hanya beristirahat dalam waktu singkat. Hal ini dilakukan karena mereka yang menjalankan budaya tersebut merasa bahwa dengan melakukan ini akan membuat dirinya sukses.
Orang dengan hustle culture sering disebut pecandu kerja atau workaholic. Padahal, budaya ini sudah ada sejak tahun 1970-an, di mana saat itu perkembangan industri semakin pesat dan karyawan dituntut untuk bekerja dengan cepat tanpa batas waktu.
Setelah era internet muncul, budaya ini semakin menggila. Perusahaan difasilitasi dengan adanya email dan sistem administrasi digital.
Baca Juga: Apa Itu Skillset?
Pada tahun 1990, perusahaan teknologi juga mulai mendominasi dunia sehingga muncul standar baru bagi kaum muda untuk bekerja berlebihan.
Di Indonesia sendiri, hustle culture sering dikaitkan dengan budaya kerja karyawan di startup teknologi dengan ritme kerja yang sangat cepat. Tak hanya ritme kerja yang cepat, bekerja melebihi jam kerja yang ditetapkan juga kerap dialami oleh para pekerja.
Ciri-ciri budaya kerja ini adalah selalu memikirkan pekerjaan dan tidak punya waktu untuk bersantai dan istirahat. Mereka selalu merasa bersalah saat sedang bersantai, mengambil cuti, atau bahkan saat istirahat.
Ciri-ciri orang atau perusahaan yang memiliki budaya ini juga terlihat dari target yang tidak realistis yang menyebabkan karyawan atau diri sendiri menjadi lelah dalam bekerja dan mengalami burnout. Akhirnya, orang dengan hustle culture jarang puas dengan pekerjaan yang mereka dapatkan.
Penyebab pertama yang menyebabkan berkembangnya hustle culture adalah toxic positivity rekan kerja atau atasan. Toxic positivity adalah kondisi dimana seseorang akan menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk mentolerir emosi negatif dan selalu berpikir positif walaupun dalam kondisi stress.
Menghindari hustle culture berarti mengetahui batasan Anda dan membuat batasan yang jelas. Paham dan tahu kapan harus berkata tidak dan berani mengatakannya, tahu kapan tubuh sudah minta istirahat dan tahu kapan tubuh bisa diajak bekerja keras. Jangan memaksakan diri karena ingin memenuhi standar yang tidak manusiawi.
Teknologi yang semakin canggih di mana media komunikasi tidak selalu harus dengan tatap muka dan dapat dilakukan dengan pertemuan atau pertemuan, menelepon, dan mengirim pesan, ini mendukung hustle culture yang dapat dilakukan di luar jam kerja yang ditetapkan.
Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar orang akan beranggapan bahwa semakin sibuk seseorang maka semakin besar peluang untuk mendapatkan posisi kerja yang tinggi, penghasilan yang lebih baik, dan kesuksesan.
Menurut penelitian Mental Health Foundation, sekitar 14,7% pekerja di Inggris mengalami masalah kesehatan mental akibat stres kerja.
Studi lain mengatakan bahwa Jepang menunjukkan jumlah pekerja dengan masalah mental dan kesehatan 3 kali lebih tinggi dari rata-rata negara di dunia.
Menurut Journal of Occupation Medicine, orang dengan jam kerja yang panjang akan mengalami depresi dan gangguan tidur. Hustle culture juga dapat berdampak negatif pada kehidupan sosial karena tidak memiliki waktu untuk kehidupan sosial atau kehidupan pribadi.
Untuk menyikapi budaya workaholic ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni tidak membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki waktu masing-masing untuk mencapai kesuksesan, bisa dalam waktu singkat atau dalam waktu yang lama.
Kesuksesan setiap orang tidak bisa dibandingkan karena proses dan faktor pendukungnya berbeda-beda. Pastikan Anda terus berkembang dan lebih baik dari hari ke hari dan lebih baik dari orang sebelumnya tanpa membandingkan diri Anda dengan orang lain.
Kemudian, mencari hobi di luar pekerjaan. Anda bisa bersantai dan menyenangkan hati dan perasaan Anda dengan menekuni hobi atau aktivitas selain bekerja. Jika Anda tidak memiliki aktivitas lain selain bekerja, maka Anda akan terbiasa bekerja di waktu senggang.
Anda juga harus memahami batasan dan kapasitas Anda. Jika Anda merasa lelah secara fisik dan mental dari pekerjaan, Anda dapat beristirahat sejenak dan mencari hiburan sejenak. Hindari menunda-nunda agar Anda terhindar dari pekerjaan yang tidak ada habisnya dan perlu diselesaikan saat liburan atau waktu luang.
Menciptakan keseimbangan di tempat kerja dan situasi yang sehat di kantor adalah hal yang harus dianut oleh para pekerja daripada hustle culture. Lingkungan kerja yang mendukung dan menghargai setiap usaha dapat membuat kondisi mental pekerja menjadi lebih baik dan tidak stres.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Fajria Anindya Utami
Editor: Fajria Anindya Utami
Tag Terkait: