
Organisasi nirlaba yang bergerak di bidang riset pengelolaan dampak lingkungan bagi para investor dan perusahaan serta pemerintah, CDP, meluncurkan platform barunya untuk merampingkan dan menghilangkan hambatan terhadap pelaporan berkualitas tinggi tentang iklim dan alam.
Platform yang baru diluncurkan CDP terbuka untuk 75.000 perusahaan yang telah mengajukan permohonan selain kota, negara, dan wilayah, akan semakin meringankan beban pelaporan dan mempermudah pengungkapan data tentang dampak lingkungan dengan cara yang cepat.
Baca Juga: Dipimpin Jokowi, SMRA Groundbreaking Sekolah Islam Al Azhar Summarecon Nusantara di IKN
Dengan meningkatnya peraturan pengungkapan iklim wajib global di seluruh dunia, CDP meluncurkan kuesioner baru yang selaras dengan standar iklim ISSB (IFRS S2) dan telah mengembangkan keselarasan yang sangat penting dengan standar-standar utama lainnya seperti Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Alam (TNFD) dan standar Uni Eropa (ESRS), yang menyelaraskannya dalam satu kuesioner dan kumpulan data.
Perusahaan-perusahaan di ASEAN secara aktif terlibat dalam perkembangan ini untuk meningkatkan praktik keberlanjutan dan pengungkapannya, serta penyelarasan ini akan mendorong efisiensi yang nyata bagi para pengungkap dan pengguna data.
Adapun Singapura menjadi salah satu negara yang mencakup seperlima dari ekonomi global yang akan mewajibkan IFRS S2, dan penyelarasan CDP akan mempermudah kepatuhan.
Analisis terbaru CDP yang dirilis pada Selasa (4/6/2024) kemarin, menunjukkan sebagian besar perusahaan telah menyatakan siap memberikan laporan. Sementara di Singapura, tercatat 54% perusahaan yang terdaftar telah melaporkan sebagian besar titik data yang selaras dengan IFRS S2 dalam kuesioner CDP.
Singapura memimpin negara-negara tetangganya, dengan perbandingan 40% dari seluruh negara ASEAN, 14% di Indonesia, dan 42% di Malaysia, yang menyoroti pendekatan proaktif perusahaan-perusahaan Singapura terhadap keberlanjutan dan transparansi.
Kuesioner baru yang disederhanakan yang menggabungkan data tentang iklim, hutan, air, keanekaragaman hayati, dan plastik memberdayakan organisasi untuk menilai risiko, dampak, dan peluang lingkungan dengan lebih baik dalam operasi, rantai pasokan, dan keputusan keuangan mereka.
CDP juga telah merilis kuesioner mandiri untuk UKM yang disesuaikan dengan sumber daya dan kebutuhan mereka, untuk membangun kapasitas di seluruh komponen penting dari rantai nilai global.
CEO of CDP, Sherry Madera menuturkan, tahun ini pihaknya menjadi mitra bagi para perusahaan dan pemerintahan untuk memberikan data tentang dampak operasional perusahaan terhadap lingkungan.
"Ada alasan bisnis yang kuat untuk mengungkapkan data lingkungan: mengamankan akses ke modal, mendorong efisiensi bisnis, dan menanggapi persyaratan kepatuhan yang semakin meningkat. Tuntutan pengungkapan ini mempengaruhi keberhasilan bisnis inti baik di dalam maupun di luar negeri. CDP bangga dengan kemitraan kami dengan ISSB, TNFD, dan kerangka kerja global lainnya untuk memenuhi peran kami dalam ekosistem, menjawab permintaan pasar akan efisiensi dan memungkinkan tindakan lingkungan yang lebih cepat melalui kekuatan data," kata Sherry dalam keterangannya, dikutip Rabu (5/6/2024).
Sherry menuturkan, platform baru yang yang diluncurkan CDP memastikan bahwa data yang diungkapkan sekali dapat digunakan oleh banyak investor, pemberi pinjaman, dan tim pengadaan di seluruh dunia.
Dia mengungkap, platform yang diluncurkan CDP berkomitmen untuk terus memajukan sistem pengungkapannya guna memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang dengan investasi pada teknologinya untuk memungkinkan siklus pelaporan yang terbuka, menyelaraskan lebih lanjut standar-standar di luar iklim, dan memastikan kegunaan data yang diungkapkan untuk mendorong perubahan.
Baca Juga: Masuki Periode Emas, Jasindo Siapkan Strategi Bisnis Berkelanjutan
Platform baru CDP, yang dikembangkan melalui kemitraan dengan Boston Consulting Group, merupakan langkah awal yang penting. Tahun lalu, perusahaan-perusahaan yang mewakili lebih dari 66% kapitalisasi pasar global mengungkapkan data mereka kepada CDP.
Untuk memperkuat peran penting yang dimainkan CDP dalam ekosistem ini, hari ini organisasi ini mengadakan Dialog Pengungkapan Global: sebuah acara yang pertama kali diadakan secara online dan di berbagai tempat di seluruh dunia.
Para pembicara terkenal termasuk CEO Standard Chartered, NTT Data, Klabin, Nissay Asset Management dan Green Finance Institute, di samping tim kepemimpinan dari ISSB, TNFD dan EFRAG, IMF, JP Morgan, Lenovo, Bloomberg, LSEG, Otoritas Moneter Singapura, Duta Besar Aksi Iklim pertama di dunia dalam pemerintahan Singapura, dan masih banyak lagi.
Baca Juga: Perkuat Transformasi Bisnis, CNI Luncurkan Logo dan Produk Baru
Sementara itu, Chair of the International Sustainability Standards Board (ISSB), Emmanuel Faber menuturkan, CDP adalah mitra pengungkapan iklim global utama ISSB. Ia mengaku senang dengan kuesioner baru CDP untuk tahun 2024 selaras dengan standar iklim IFRS S2 sebagai dasar pengungkapan terkait iklim bagi investor.
Dengan catatan keberhasilan dalam mendorong adopsi kerangka kerja pengungkapan, kata Faber, CDP menjadi alat yang mapan dan tepercaya yang mendukung perusahaan dalam perjalanannya menuju kepatuhan terhadap ISSB.
"Kemitraan kami akan membuat hidup lebih mudah bagi perusahaan untuk mengungkapkan data yang relevan kepada para pemangku kepentingan mereka dan secara kritis akan mempercepat penyerapan IFRS S2 secara global dan ketersediaan informasi yang sangat dibutuhkan oleh para investor," jelasnya.
Adapun peluncuran kuesioner korporat CDP yang baru hari ini merupakan tonggak sejarah yang menarik bagi TNFD dan pelaporan korporat, karena ribuan perusahaan lainnya mulai mengungkapkan data utama yang selaras dengan TNFD, mengikuti jejak para pengadopsi awal yang diumumkan pada bulan Januari.
Pelaporan ke pasar global melalui CDP akan sangat penting untuk memastikan bahwa investor, pemberi pinjaman, perusahaan asuransi, dan perusahaan dapat merespons ketergantungan, dampak, risiko, dan peluang yang berkaitan dengan alam yang material.
Pendekatan terpadu CDP terhadap iklim dan alam, yang telah lama dikembangkan melalui pekerjaannya dalam pengungkapan hutan dan air, merupakan kunci untuk memajukan aksi lingkungan holistik yang dibutuhkan dunia, dan kami berharap dapat terus bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama ini.
Sejalan dengan itu, Wakil Presiden Singtel Group, Andrew Buay mengatakan, platform CDP memiliki mekanisme kerja komprehensif yang berperan berperan dalam memandu komitmen jangka panjang Grup terhadap pengelolaan lingkungan.
"Kerangka kerja CDP yang ketat telah mempertajam pendekatan dekarbonisasi kami dan mempersiapkan Grup untuk pengungkapan terkait iklim IFRS S2 yang akan datang. Kami menantikan dukungan CDP dalam perjalanan kami untuk merealisasikan target yang telah divalidasi ulang oleh SBTI dan mencapai target nol karbon pada tahun 2045," ungkapnya.
Senada dengan Andrew, SVP Sustainability Development di Schneider Electric, Xavier Denoly mengatakan, kemitraan dengan CDP lebih dari sekadar pelaporan, melainkan juga mendorong inisiatif perusahaan untuk peduli terhadap lingkungan.
Baca Juga: Bantu Rakyat Palestina Jadi Kunci Sukses Bisnis d'Besto
"Bersama dengan rekan-rekan A List kami, kami berkomitmen untuk memberikan dampak yang berarti dan membentuk perubahan positif di dunia bisnis, dengan menggunakan pengungkapan sebagai landasan untuk bertindak," tutupnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Andi Hidayat
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: