Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Citigroup Ungkap Baing Kerok Rupiah Tertekan Meski IHSG Cetak Rekor

        Citigroup Ungkap Baing Kerok Rupiah Tertekan Meski IHSG Cetak Rekor Kredit Foto: Citibank
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Citigroup mengungkap penyebab pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), meski indeks harga saham gabungan (IHSG) terus menguat hingga menembus level 9.000. 

        Co-Head of Japan, Asia North and Australia (JANA) and Asia South, Investment Banking Coverage Citigroup, Kaustubh Kulkarni, mengatakan tekanan global membuat nilai tukar berfungsi sebagai mekanisme penyerap guncangan di tengah ketahanan pasar saham. Pelemahan rupiah mencerminkan peran nilai tukar sebagai shock absorber dalam merespons tekanan eksternal.

        “Nilai tukar berperan sebagai mekanisme penyerap guncangan (shock absorber), sehingga mata uang cenderung melemah,” kata Kaustubh dalam konferensi pers Asia South Investment Banking Outlook 2026 secara daring, Kamis (15/1/2026).

        Baca Juga: Rupiah Nyerempet Rp17.000, Airlangga Sebut Masih Aman

        Kaustubh menjelaskan, fenomena penguatan pasar saham yang terjadi bersamaan dengan pelemahan mata uang bukan hanya dialami Indonesia. Pola serupa juga terlihat di sejumlah negara Asia Utara dan Asia Selatan, seperti Jepang, Korea Selatan, dan India.

        Di negara-negara tersebut, indeks saham acuan berada di level tertinggi sepanjang masa atau mendekati rekor, sementara mata uang masing-masing justru mengalami tekanan terhadap dolar AS.

        “Hal ini mencerminkan bagaimana perekonomian dan bank sentral di negara-negara tersebut merespons tekanan global, termasuk tekanan tarif,” terangnya.

        Menurut Kaustubh, ketahanan pasar saham di kawasan tersebut ditopang oleh fundamental domestik yang kuat. Konsumsi domestik yang solid, likuiditas dalam negeri yang besar, serta sentimen positif dan partisipasi investor ritel yang tinggi mendorong aliran dana ke pasar saham.

        “Kondisi ini mendorong aliran likuiditas ke pasar saham dan menopang valuasi,” ucapnya.

        Baca Juga: Rupiah Hampir Rp17.000, Purbaya: Gak Usah Panik, Rupiah akan Menguat Dalam Dua Pekan!

        Selain itu, valuasi pasar saham juga diperkuat oleh kinerja dan prospek laba emiten yang dinilai sangat solid. Pertumbuhan laba perusahaan tercatat kuat baik pada tahun berjalan maupun proyeksi tahun berikutnya.

        “Jika melihat Korea, Jepang, India, dan Indonesia, pertumbuhan laba yang dicatatkan perusahaan dan indeks pada tahun ini dan yang diharapkan ke depan tergolong sangat baik,” tuturnya.

        Dengan kondisi tersebut, Kaustubh menilai penguatan pasar saham di tengah pelemahan mata uang justru memberikan sinyal positif bagi aktivitas penggalangan dana di pasar modal. Ia meyakini aktivitas equity capital raising di kawasan Asia tetap akan terjaga.

        “Nilai tukar, dalam konteks ini, menjadi alat penyesuaian utama karena tidak banyak alternatif respons lain yang tersedia bagi perekonomian besar tersebut,” tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: