Kredit Foto: Youtube
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menguat ke level 5,4%, didorong oleh penguatan permintaan domestik dan sinergi kebijakan antarlembaga, meski ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik masih meningkat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan stabilitas sistem keuangan nasional pada triwulan IV 2025 tetap terjaga di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global memasuki awal 2026.
“Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat menjadi 5,4 persen, ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan dengan berbagai sinergi kebijakan dari pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya,” ujar Purbaya, dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK I Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: Rupiah Hampir Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS, Purbaya Yakin Tak Picu Krisis Ekonomi, Kenapa?
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi pertumbuhan ekonomi 2025 yang diperkirakan berada di kisaran 5,2%. Menurut Purbaya, momentum penguatan ekonomi domestik tercermin dari sejumlah indikator, antara lain Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur yang berada di zona ekspansi, pertumbuhan positif indeks penjualan riil, serta kinerja neraca perdagangan yang konsisten mencatatkan surplus.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa risiko global masih menjadi perhatian utama. Ketegangan perang dagang Amerika Serikat dan China serta kerentanan rantai pasok global dinilai berpotensi memicu ketidakpastian lanjutan terhadap perekonomian dunia.
Di sisi kebijakan moneter global, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) telah memangkas Fed Funds Rate secara agresif sebesar 50 basis poin pada triwulan IV 2025 ke kisaran 3,50–3,75%. Kebijakan tersebut ditempuh seiring perlambatan aktivitas ekonomi dan melemahnya pasar tenaga kerja di AS.
“Ketidakpastian pasar uang global juga meningkat, terutama dipicu oleh ketegangan perang dagang serta eskalasi tensi geopolitik. KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking,” kata Purbaya.
Untuk menjaga target pertumbuhan 5,4% pada 2026, pemerintah akan memperkuat peran investasi sebagai mesin pertumbuhan. Purbaya menyebut optimalisasi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) akan diarahkan untuk mendorong investasi swasta, di samping melanjutkan program hilirisasi sumber daya alam dan penguatan iklim investasi melalui Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP).
Selain itu, empat program stimulus fiskal 2025 dipastikan berlanjut pada 2026, meliputi PPh Final 0,5% bagi UMKM hingga 2029, PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi pekerja sektor pariwisata dan industri padat karya, serta diskon iuran JKK dan JKM bagi peserta Bukan Penerima Upah.
Baca Juga: Purbaya Utus Wamenkeu Suahasil Pantau Rapat Gubernur BI Besok
Dari sisi fiskal, APBN 2025 tetap menjalankan fungsi sebagai shock absorber. Hingga akhir 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3% dari pagu APBN, sementara pendapatan negara tercatat Rp2.756,3 triliun atau 91,7% dari target.
Defisit anggaran tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92% terhadap PDB dan dialokasikan untuk program pembangunan nasional, termasuk Makanan Bergizi Gratis (MBG), pembinaan Koperasi Desa, serta paket stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat dan dunia usaha.
Di pasar keuangan, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke level 6,41%, membaik dibandingkan posisi akhir 2024 yang berada di atas 7%. Penurunan yield tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas fiskal dan kebijakan ekonomi Indonesia.
Ke depan, KSSK menyatakan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi kebijakan dan mitigasi risiko guna menghadapi dampak kebijakan tarif impor AS serta dinamika global lainnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri