Dagang ke China, PM Inggris Main Api di Antara Xi Jinping dan Donald Trump
Kredit Foto: Reuters
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bersiap melakukan kunjungan berisiko tinggi ke China demi menggenjot perekonomian negaranya, di tengah ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Beijing yang kian memanas.
Starmer dijadwalkan bertolak ke Beijing dan Shanghai untuk misi ekonomi selama tiga hari, dengan membawa delegasi elite ekonomi Inggris, termasuk Menteri Keuangan Rachel Reeves, Menteri Perdagangan Peter Kyle, serta para CEO sektor jasa keuangan.
Dilansir dari NY Times, kunjungan ini menjadi yang pertama bagi perdana menteri Inggris ke China sejak 2018 dan menandai upaya Starmer memenuhi janji kampanyenya untuk memperbaiki hubungan London-Beijing, sekaligus menarik investasi dan perdagangan baru bagi ekonomi Inggris yang tengah melambat.
Namun, langkah tersebut tak lepas dari risiko geopolitik besar. Starmer harus bermanuver hati-hati di antara dua kekuatan global, China dan Amerika Serikat, terutama setelah Presiden AS Donald Trump kembali menunjukkan sikap keras terhadap negara-negara sekutu yang membuka pintu dagang dengan Beijing.
Beberapa hari sebelum keberangkatan Starmer, Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif 100 persen kepada Kanada jika menjalin kerja sama perdagangan dengan China.
Meski konteksnya berbeda, sinyal keras itu menjadi peringatan bagi sekutu Barat lainnya, termasuk Inggris.
Bagi China, kunjungan Starmer menjadi peluang strategis untuk merangkul sekutu dekat Amerika Serikat yang mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Washington.
Beijing melihat celah di tengah retaknya solidaritas Barat akibat kebijakan Trump yang agresif dan sulit diprediksi.
Situasi Starmer kian rumit karena sentimen politik domestik Inggris terhadap China telah berubah tajam.
Kekhawatiran soal keamanan nasional, isu hak asasi manusia, serta banjir produk murah asal China membuat pendekatan lunak terhadap Beijing menuai kritik luas.
Starmer sebelumnya sudah menghadapi tekanan politik setelah pemerintahannya menyetujui pembangunan mega-embassy China di pusat London dan ketika jaksa Inggris menghentikan kasus dugaan spionase yang melibatkan dua warga negaranya.
Kunjungan ke China ini pun dinilai lebih menitikberatkan agenda ekonomi ketimbang isu politik atau HAM. Menteri Luar Negeri Inggris bahkan tidak ikut dalam rombongan, menandakan fokus utama perjalanan ini adalah investasi dan perdagangan.
Para pengamat menilai, langkah Starmer mencerminkan dilema klasik negara-negara menengah: ingin memanfaatkan peluang ekonomi dari China, namun enggan memicu kemarahan Amerika Serikat.
“Pertaruhan utamanya bukan cuma soal uang cepat atau narasi ekonomi positif jangka pendek, tapi ketahanan, keamanan nasional, dan arah strategis Inggris ke depan,” ujar Luke de Pulford dari Inter-Parliamentary Alliance on China.
Baca Juga: Trump Semakin Ugal-Ugalan, Ingin Permanenkan Kehadiran CIA di Venezuela
China sendiri diperkirakan akan meminta imbal balik konkret, mulai dari pembukaan pasar Inggris bagi investasi dan ekspor China, hingga upaya mendepolitisasi hubungan bilateral yang selama ini didominasi isu keamanan dan hak asasi manusia.
Di tengah rivalitas global yang semakin keras, kunjungan Starmer mencerminkan realitas baru dunia internasional: negara-negara yang tak duduk di meja perundingan berisiko menjadi sekadar objek permainan kekuatan besar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: