- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Anjlok 5,31% Siang Ini, Investor Tunggu Hasil Pertemuan OJK-BEI dengan MSCI
Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih nestapa pada penutupan sesi pertama perdagangan Senin (2/2/2026) saat investor masih menantikan hasil pertemuan Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan pengelola Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Merujuk data RTI, IHSG siang ini anjlok 442,44 poin atau setara 5,31% ke level 7.887,16. Pada perdagangan pagi tadi, IHSG bahkan sempat turun lebih tajam ke posisi 7.858,39. Sebanyak 715 saham berada di zona merah, hanya 65 saham yang menghuni zona hijau sementara 33 saham lainnya terpantau stagnan.
Hingga pertengahan hari ini, IHSG sudah membukukan nilai transaksi sebesar Rp18,94 triliun. Hal itu diperoleh dari adanya perdagangan 35,35 miliar lembar saham dengan frekuensi 2.080.849 kali.
Emiten Bakrie Group, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memimpin posisi top losers dengan koreksi 15% ke level Rp1.105. Disusul PT MD Entertainment Tbk (FILM) yang ambruk 15% ke Rp12.325 dan PT GTS Internasional Tbk (GTSI) yang merosot 15% ke Rp238.
Posisi saham top gainers diisi PT Soho Global Health Tbk (SOHO) yang loncat 24,79% ke Rp2.240, PT Inter-Delta Tbk (INTD) yang melesat 23,2% ke Rp308 dan PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) yang menguat 16,95% ke Rp138.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi yang paling banyak diburu investor dengan nilai transaksi Rp2,23 triliun. Diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp1,47 triliun dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp915,57 miliar.
Baca Juga: IHSG Terkena Guncangan, Ini Sederet Aksi BEI Redam Efek MSCI
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pertemuan dengan MSCI akan dilakukan langsung oleh manajemen BEI dengan kehadiran perwakilan OJK. Pertemuan hari ini untuk membahas pendalaman pasar modal Indonesia, termasuk upaya meningkatkan partisipasi investor global dan bobot Indonesia dalam indeks global.
“Sore (MSCI), besok Eropa (FTSE) pagi. Saya dengan tim, dari OJK juga akan hadir,” ujar Jeffrey, Minggu (1/2/2026).
Jeffrey menjelaskan agenda utama pertemuan dengan MSCI mencakup penyampaian kondisi operasional bursa yang tetap berjalan normal serta langkah-langkah percepatan reformasi dan pendalaman pasar modal dari sisi permintaan (demand).
“Dari SRO atau Bursa Efek Indonesia, pertama yang ingin kami sampaikan adalah bahwa operasional Bursa Efek Indonesia, baik kesiapan sistem perdagangan, pelayanan kepada seluruh stakeholders maupun proses pengambilan keputusan berjalan secara normal tanpa ada gangguan apa pun,” kata Jeffrey.
Baca Juga: Soal Plt Dirut BEI,, Ini Penjelasan OJK
Menurut dia, BEI juga akan memaparkan upaya percepatan pendalaman pasar, khususnya untuk menarik lebih banyak investor global. BEI telah menampung berbagai concern dari global index provider dan melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah penyedia indeks.
“Dalam konteks pendalaman pasar dari sisi demand, khususnya bagaimana mendatangkan lebih banyak investor global. Kami sudah menampung banyak concern dari global index provider dan kami sudah berkomunikasi dengan beberapa index provider. Minggu lalu kami juga berkomunikasi, dan besok kami akan berkomunikasi lagi dengan MSCI,” ujarnya.
Jeffrey menyampaikan BEI akan menjelaskan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan bobot Indonesia dalam konstituen indeks global. Salah satu fokus utama adalah peningkatan keterbukaan informasi (disclosure) yang sejalan dengan praktik bursa global.
“Kami SRO akan meningkatkan disclosure. Melengkapi disclosure yang sudah kami sampaikan kepada publik melalui website Bursa Efek Indonesia di awal Januari kemarin,” kata Jeffrey.
Baca Juga: Tak Penuhi Aturan Free Float, 38 Saham Dibekukan Sementara!
BEI, lanjut dia, akan meningkatkan keterbukaan data kepemilikan saham secara lebih umum, termasuk data pemegang saham di bawah 5% agar setara dengan praktik bursa global lainnya. Kebijakan tersebut akan mulai diterapkan pada awal Februari 2026.
Selain itu, BEI bersama KSEI akan memperbaiki klasifikasi tipe investor agar lebih rinci dan komprehensif. Saat ini terdapat sembilan kategori Single Investor Identification (SID) yang akan disesuaikan dengan global best practice.
“Kami akan menambahkan kategori lain dalam klasifikasi investor sesuai dengan kategori yang diharapkan oleh MSCI. Ini mencakup klasifikasi seperti sovereign wealth fund, private equity, investment advisor, discretionary fund, dan lain-lain,” ujar Jeffrey.
BEI akan memulai sosialisasi kepada pelaku pasar pada pekan ini dan meminta pelaku pasar, custodian bank, serta pemangku kepentingan lainnya melakukan remapping klasifikasi investor. Proses tersebut ditargetkan rampung paling lambat April 2026, sebelum timeline yang ditetapkan MSCI.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: