- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Hari Ini Dibuka Ambruk 2% Usai Moody's Ubah Outlook Indonesia Jadi Negatif
Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka ambruk ke level 7.945,04 pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2025. Hal ini terjadi usai Moody’s Ratings secara resmi mengubah outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Berdasarkan data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG masih berada di zona merah dengan penurunan tajam 162,76 poin atau setara 2% lebih ke level 7.941,11. Sebanyak 541 saham melemah, hanya 65 saham yang menguat dan 82 saham lainnya stagnan.
Per pagi hari ini, IHSG sudah memperdagangkan 5,42 miliar lembar saham dengan frekuensi 277.939 kali. Adapun nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp2,54 triliun.
PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) memimpin posisi saham top losers dengan koreksi 14,94% ke Rp131. Diikuti PT MD Entertainment Tbk (FILM) yang merosot 14,80% ke Rp6.475 dan PT Bhakti Multi Artha Tbk (BHAT) yang menyusut 14,58% ke Rp1.260.
Sementara itu, PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN) menempati posisi top gainers dengan lonjakan 28,47% ke Rp185. Disusul PT Lion Metal Works Tbk (LION) yang melejit 23,46% ke Rp600 dan PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) yang meroket 22,83% menjadi Rp226.
Baca Juga: OJK Cermati Pasar Usai Outlook Negatif Moody’s
Moody’s Ratings secara resmi mengubah outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan sorotan utama pada menurunnya kepastian dan konsistensi kebijakan yang dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta kredibilitas institusional pemerintah. Meski demikian, peringkat kredit Indonesia dipertahankan di level Baa2 (investment grade).
Dalam penilaiannya, Moody’s mencatat melemahnya koherensi proses pengambilan kebijakan dan efektivitas komunikasi pemerintah sepanjang setahun terakhir. Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan nilai tukar, serta penurunan skor Indonesia pada indikator global terkait efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi. Moody’s menilai pelemahan ini berpotensi mencerminkan penurunan kekuatan institusional dibandingkan dengan yang sebelumnya diasumsikan.
Lembaga pemeringkat tersebut juga menyoroti arah kebijakan fiskal yang semakin bertumpu pada belanja publik untuk mendorong pertumbuhan, di tengah basis penerimaan negara yang dinilai masih sangat lemah. Menurut Moody’s, strategi ini meningkatkan risiko defisit fiskal yang lebih lebar apabila tidak disertai reformasi penerimaan yang kredibel dan berkelanjutan.
Baca Juga: Respons Outlook Negatif Moody’s, Airlangga: Mereka Perlu Penjelasan Pemerintah
Moody’s juga mencatat meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pertumbuhan pendapatan, prospek lapangan kerja, dan standar hidup, yang memicu aksi protes sepanjang tahun. Faktor ini dinilai menambah risiko stabilitas politik domestik, yang dalam jangka panjang dapat membebani profil kredit Indonesia.
Meski outlook diturunkan, Moody’s menegaskan fundamental ekonomi Indonesia belum mengalami perubahan material. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap berada di kisaran 5%, dengan defisit fiskal masih dijaga di bawah 3% dari PDB. Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa pelemahan kredibilitas kebijakan dapat dengan cepat mengubah stabilitas tersebut apabila tidak segera direspons.
Moody’s menegaskan akan terus memantau arah kebijakan pemerintah, khususnya terkait konsistensi kebijakan fiskal dan moneter, tata kelola Danantara, serta dampaknya terhadap arus modal, stabilitas pasar keuangan, dan kepercayaan investor.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: