Kredit Foto: Antara/Henry Purba
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengungkapkan sejumlah dampak yang terjadi terhadap rumah tangga usai Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dengan tetap mempertahankan rating pada level Baa2.
Syafruddin menilai, perubahan outlook tersebut dapat menjalar ke perekonomian rumah tangga melalui tiga jalur utama, yakni harga dan daya beli, suku bunga kredit serta akses pembiayaan, dan lapangan kerja.
Pertama, dari sisi harga dan daya beli, pelemahan nilai tukar rupiah yang berisiko mendorong kenaikan biaya impor, terutama untuk pangan, energi, obat-obatan, bahan baku, dan barang modal.
“Perusahaan bisa meneruskan biaya itu ke harga jual, sehingga masyarakat merasakan tekanan pada biaya hidup,” kata Syafruddin dalam keterangannya, Jakarta, dikutip sabtu (7/2/2026).
Kedua, dampak juga dirasakan melalui suku bunga kredit dan akses pembiayaan. Syafruddin mengatakan, kenaikan imbal hasil obligasi (yield) dan premi risiko menyebabkan biaya dana perbankan dan dunia usaha menjadi lebih tinggi.
Dengan kondisi tersebut, Bank cenderung menahan ekspansi kredit atau menaikkan bunga kredit.
“UMKM, KPR, dan pembiayaan kendaraan paling cepat merasakan pengetatan,” tambahnya.
Ketiga, dari sisi lapangan kerja dan pendapatan, meningkatnya ketidakpastian kebijakan berpotensi menahan arus investasi yang dapat mempengaruhi jumlah perekrutan tenaga kerja.
“Penundaan investasi mengurangi pembukaan kapasitas produksi baru dan perekrutan tenaga kerja, sehingga pemulihan pendapatan berjalan lebih lambat,” tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: