Kredit Foto: Azka Elfriza
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai penundaan review indeks oleh FTSE Russell serta perubahan outlook Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s Investors Service merupakan peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat tata kelola dan menjaga kepercayaan pasar.
Ia menyebut respons pemerintah atas penilaian lembaga global tersebut menjadi faktor kunci dalam menjaga confidence investor.
“Tentu kan ini kalau kita melihat MSCI dan juga Moody’s, jadi kan Kementerian Keuangan juga kemarin melalui Wamen Pak Juda juga meresponsnya ini adalah sebagai lesson learned ya. Artinya ini jangan kita anggap sebagai sesuatu hal yang negatif,” ujar Josua, dalam acara Membaca Masa Depan Properti Indonesia: Transisi Pasar dan Peluang 2026 di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Baca Juga: Danantara Kejar Peringkat Global dari Moody’s dan S&P untuk Akses Pendanaan
Ia menegaskan, sinyal dari lembaga pemeringkat seharusnya diperlakukan sebagai dorongan untuk melakukan perbaikan struktural, terutama pada aspek tata kelola dan keterbukaan informasi.
“Justru kita meresponsnya adalah berarti harus ada yang kita perbaiki dari kondisi ekonomi kita. Dari sisi governance-nya, dari sisi tadi keterbukaan informasi ultimate beneficial owner (UBO)-nya,” ucapnya.
Terkait keputusan FTSE Russell yang menunda evaluasi indeks Indonesia, Josua menilai langkah tersebut mencerminkan sikap wait and see sambil menunggu konsistensi respons kebijakan pemerintah terhadap catatan lembaga global.
“Kaitannya kepada confidence dari FTSE sendiri saya pikir ya pastinya akan wait and see juga kan menunggu bagaimana komitmen ataupun respons dari pemerintah juga ya merespons MSCI, merespons Moody’s seperti apa sehingga mungkin dia hold juga waiting-nya Indonesia,” katanya.
Meski demikian, Josua mencatat bahwa Moody’s masih menilai prospek fiskal dan pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif aman. Namun, perhatian lembaga pemeringkat tersebut lebih tertuju pada faktor-faktor kualitatif.
“Dia cukup take note terkait dengan faktor kualitatif ya termasuk juga berkaitan dengan bagaimana produktivitas Danantara yang kita harapkan pun juga tahun ini akan semakin baik lagi dari sisi proyek-proyek investasinya,” tuturnya.
Baca Juga: Outlook Moody’s Negatif, BNI Tegaskan Status Tetap Investment Grade
Sejalan dengan masukan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan bersama Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia terus mempercepat agenda reformasi struktural pasar modal untuk memperkuat integritas, transparansi, dan daya saing pasar.
Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyatakan langkah tersebut diarahkan sebagai penguatan fundamental jangka panjang.
“Dengan pendekatan ini, OJK ingin memastikan bahwa percepatan reformasi integritas pasar modal bukan hanya menjadi respons jangka pendek, tetapi menjadi agenda penguatan fondasi struktural bagi pasar modal Indonesia yang solid, terpercaya, dan kompetitif secara global,” kata Hasan dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia, Senin (9/2/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: