Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bebas Bea Masuk! Indonesia Siap Kuasai 86 Persen Pasar Minyak Sawit Amerika Serikat

        Bebas Bea Masuk! Indonesia Siap Kuasai 86 Persen Pasar Minyak Sawit Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat resmi memberlakukan tarif bea masuk nol persen untuk ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya asal Indonesia. Kebijakan ini disepakati melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang membuka peluang peningkatan volume ekspor langsung ke Negeri Paman Sam.

        Selama ini, Indonesia mengekspor sekitar 6 juta ton CPO per tahun ke Amerika Serikat dengan jalur pengiriman yang masih tidak langsung. Hanya sepertiga dari total volume tersebut yang dikirim langsung, sementara sisanya harus melalui proses re-ekspor dari negara-negara Eropa.

        Permintaan minyak sawit di Amerika Serikat diproyeksikan akan meningkat stabil hingga mencapai 2,2 juta ton pada tahun 2035 mendatang. Nilai pasar komoditas ini diperkirakan menembus angka US$2,4 miliar dengan laju pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 4,2 persen.

        Indonesia tetap menjadi pemasok utama dengan kontribusi mencapai 86 persen dari total impor minyak sawit Amerika Serikat. Berdasarkan data tahun 2024, volume pengiriman dari tanah air tercatat berada di kisaran 1,8 juta ton untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut.

        Baca Juga: ART Indonesia-AS Diteken 19 Februari 2026, Jadi Penentu Arah Tarif Dagang

        Pasar Amerika Serikat didominasi oleh produk olahan (refined palm oil) yang mencapai 98 persen dari total keseluruhan impor nasional mereka. Permintaan dari industri pangan dan sektor bioenergi menjadi pendorong utama meskipun konsumsi pasar sempat mengalami pelemahan beberapa waktu lalu.

        Stabilitas pasokan dari Indonesia dinilai menjadi faktor krusial bagi keberlanjutan rantai pasok minyak nabati di pasar Amerika. Namun, para pelaku industri diharapkan mulai memperhatikan isu keberlanjutan dan sertifikasi hijau seiring dengan perubahan arah kebijakan impor masa depan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: