AS Jamin Tidak Sentuh Energi Iran, Pasar Minyak Tidak Percaya! WTI Sudah Naik 36 Persen
Kredit Foto: Istimewa
Menteri Energi AS Chris Wright mencoba menenangkan pasar global dengan menyatakan Washington tidak akan menyentuh infrastruktur minyak dan gas Iran. Meski di saat yang sama, langit Teheran sedang memerah dibakar api dari depot-depot minyak yang baru saja dihantam Israel.
"Tidak ada rencana untuk menyerang industri minyak Iran, industri gas alam mereka, atau apa pun yang berkaitan dengan industri energi mereka. AS menargetkan nol infrastruktur energi," tegas Wright dikutip dari Kantor Berita TASS.
Sebelumnya Israel menyerang fasilitas penyimpanan minyak di dalam dan sekitar Teheran pada Sabtu (7/3/2026) yang memicu kebakaran besar yang menjadi serangan pertama terhadap infrastruktur energi sejak perang dimulai sepekan lalu.
Ketika didesak soal serangan tersebut, Wright memilih menjawab, "Ini serangan Israel. Ini depot bahan bakar lokal untuk mengisi tangki bensin di kawasan itu.".
Wright mengakui adanya "dampak kualitas udara" dari serangan itu. Bagi warga Iran, mengutip laporan CNN, terasa "mencekik" tapi disebut Wright sebagai sesuatu yang tidak berarti jika dibandingkan dengan penderitaan rakyat Iran selama ini.
Framing "depot bahan bakar lokal" sebenarnya menjadi pilihan kata yang politis. Sebab, secara teknis depot bahan bakar berbeda dari ladang minyak atau kilang besar, tapi bagi pasar energi global, kebakaran fasilitas minyak di Ibu Kota Iran tetap dibaca sebagai sinyal bahaya. Terutama di tengah situasi Selat Hormuz yang nyaris lumpuh.
West Texas Intermediate sebagai patokan harga minyak AS disebut sudah naik 12 persen hanya dalam sehari terhitung pada Jumat lalu, dan sudah naik 36 persen dalam sepekan. Harga BBM di pompa AS juga naik 16 persen dalam seminggu, termasuk harga solar yang naik 22 persen dan menjadi level tertinggi sejak Februari 2023.
Selat Hormuz yang biasanya dilalui hampir 20 persen minyak mentah dan 20 persen LNG dunia kini hampir sepenuhnya lumpuh. Terkait hal ini, Wright mencoba meyakinkan publik bahwa ini hanya gangguan sementara.
"Paling buruk, ini hanya beberapa minggu. Bukan berbulan-bulan," ujarnya.
Sementara itu, di balik jaminan Wright soal stabilitas energi, ada dua langkah mengejutkan yang sedang disiapkan Washington.
Melansir Asharq Al-Awsat, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah sedang mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia. Hal ini dilakukan sehari setelah AS sementara mengizinkan India membeli minyak dari Moskow di tengah lonjakan harga global.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt juga menyebut Trump sedang memanfaatkan pasar baru di Venezuela. Hal ini merujuk pada cadangan minyak Venezuela yang diklaim akan disita AS setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Artinya, untuk menstabilkan harga energi global, AS siap membuka keran minyak Rusia dan Venezuela, dua negara yang selama ini menjadi musuh geopolitik mereka sendiri.
Wright menegaskan bahwa AS memastikan minyak, gas alam, dan semua produk dari Teluk kembali mengalir melalui Selat Hormuz dengan cara melumpuhkan kemampuan Iran menyerang menggunakan rudal dan drone secara masif.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: