Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 87 poin ke level Rp16.862 per dolar AS pada perdagangan Selasa (10/3/2026) sore. Posisi tersebut membaik dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.925 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah terjadi di tengah penurunan cadangan devisa Indonesia. Penurunan tersebut dipicu tekanan global terhadap rupiah, terutama akibat konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
“Posisi cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 pun semakin menipis hingga tersisa US$151,9 miliar. Jumlah itu menurun dari posisi Januari 2026 yang sebesar US$154,6 miliar,” kata Ibrahim kepada wartawan.
Bank Indonesia (BI) mengakui penurunan cadangan devisa terjadi seiring langkah intervensi moneter yang dilakukan untuk menahan tekanan terhadap rupiah sejak awal tahun. Selain itu, pembayaran utang luar negeri pemerintah juga turut mengurangi porsi cadangan devisa.
Meski demikian, bank sentral memastikan tingkat kecukupan cadangan devisa masih relatif aman. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka tersebut juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depan, sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing,” jelas Ibrahim.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya Tegaskan Ekonomi RI Belum Resesi
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.000 dan IHSG Anjlok, Purbaya: Investor Jangan Takut, Pondasi Ekonomi KIta Jaga!
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah di Level Rp16.946 Dibayangi Kenaikan Harga Minyak Dunia
Dari sisi eksternal, penguatan rupiah juga dipengaruhi perkembangan geopolitik. Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan melakukan panggilan telepon dengan Presiden AS Donald Trump untuk membahas proposal yang bertujuan mempercepat penyelesaian konflik Iran.
Menurut seorang ajudan Kremlin, langkah tersebut diharapkan dapat meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: