Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Ditutup Melemah Rp16.886 Efek Perang di Selat Hormuz & Outlook Negatif Moody’s-Fitch

        Rupiah Ditutup Melemah Rp16.886 Efek Perang di Selat Hormuz & Outlook Negatif Moody’s-Fitch Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 23 poin dari di level Rp16.886 pada perdagangan Rabu (11/3/2026), dari sebelumnya menguat di level Rp16.862 per USD.

        Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan mata uang Garuda terjadi akibat pasar terguncang karena Iran mulai memblokir Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap serangan AS dan Israel terhadap negara tersebut. 

        "Teheran mengatakan akan terus menyerang kapal-kapal di selat tersebut hingga penghentian permusuhan terhadap Republik Islam," kata Ibrahim kepada wartawan.

        Di sisi lain, kata Ibrahim Presiden AS Donald Trump menyatakan minggu ini perang hampir berakhir. Tetapi Iran menolak dan menyatakan bahwa Teheran akan memutuskan kapan konflik berakhir. 

        "Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak dan gas utama untuk Asia, dengan gangguan pasokan yang berkepanjangan diperkirakan akan memiliki konsekuensi buruk bagi perekonomian yang sangat bergantung pada impor energi," kata dia.

        Sementara dari dalam negeri pelemahan terjadi usai lembaga internasional menyoroti kinerja pemungutan pajak yang dianggap sebagai biang keladi dari lunturnya kredibilitas fiskal pemerintah. Sorotan teranyar datang dari tiga lembaga pemeringkat global yakni Moody's, S&P dan Fitch. 

        "Menariknya, dari 3 lembaga tersebut, hanya S&P yang masih mempertahankan prospek atau outlook stabil. Dua lainnya yaitu Moody's dan Fitch telah menurunkan outlook dari stabil ke negatif," kata dia.

        Baca Juga: Rosan Roeslani Temui Moody’s di New York, Perkuat Kepercayaan Global terhadap Danantara dan Ekonomi Indonesia

        Penurunan outlook itu, kata Ibrahim, merupakan imbas dari kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas fiskal pemerintah. Kinerja setoran pajak, yang menjadi tumpuan pendapatan negara dianggap tidak sejalan dengan beban belanja pemerintah.

        Sekadar contoh, pelebaran defisit APBN 2025 yang menembus 2,92% dari produk domestik bruto (PDB) telah mempersempit ruang fiskal pemerintah. Defisit itu melebar dari target UU APBN 2025 yakni 2,53%. 

        "Pemicunya, setoran pajak tidak sesuai ekspektasi hanya Rp1.917,6 triliun atau 87,6% dari target tahun 2025," kata dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: