Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gedung Putih Sebut Tanker Amerika Mulai Lewat Hormuz, tapi 3.200 Kapal Masih Terjebak

        Gedung Putih Sebut Tanker Amerika Mulai Lewat Hormuz, tapi 3.200 Kapal Masih Terjebak Kredit Foto: Google Earth
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, menyebut kapal-kapal tanker sudah mulai melintas kembali di Selat Hormuz dalam wawancaranya di CNBC, Selasa (17/3/2026).

        Ia menilai kondisi itu sebagai tanda melemahnya Iran dan meyakini konflik akan selesai dalam waktu dekat.

        "Anda sudah bisa lihat tanker-tanker mulai menetes melewati selat itu, dan menurut saya itu adalah tanda betapa sedikitnya yang tersisa dari Iran. Kami sangat optimis ini akan selesai dalam waktu dekat," kata Hassett.

        Namun di saat yang sama, melansir Reuters via gCaptain, Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sekitar 3.200 kapal yang mengangkut sekitar 20.000 pelaut masih terjebak di sebelah barat Selat Hormuz dan tidak bisa keluar.

        Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab, satu-satunya jalur ekspor minyak mentah UEA yang tidak terdampak langsung, juga sudah menghentikan semua aktivitas pemuatan minyak.

        Sejumlah pengelola rantai pasokan bahan bakar global mulai was-was bahwa kekurangan bahan bakar bisa mulai terasa dalam hitungan minggu jika Hormuz tidak segera kembali normal.

        Jadi "menetes" yang dimaksud Hassett bukan berarti kondisi sudah pulih, melainkan sekadar beberapa kapal yang nekat melintas di tengah ancaman serangan.

        Dari Tehran, sinyal yang keluar justru sebaliknya. Melansir Pravda USA, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Selat Hormuz sudah tertutup dan tidak akan bisa berfungsi seperti sebelum operasi militer AS dan Israel terhadap Iran.

        Ada satu bagian dari pernyataan Hassett yang luput dari sorotan luas namun relevan bagi Asia, termasuk Indonesia. Hassett mengakui kekhawatiran bahwa negara-negara Asia mungkin mulai menahan ekspor produk olahan minyak mereka untuk memastikan kecukupan pasokan di dalam negeri masing-masing.

        "Kami melihat beberapa tanda bahwa mereka mungkin menarik kembali pasokan itu untuk memastikan mereka punya cukup energi untuk diri mereka sendiri," kata Hassett.

        Indonesia sendiri dikabarkan hanya punya cadangan BBM untuk sekitar 20 hari ke depan. Sementara negara-negara Asia yang biasanya menjual kelebihan stok minyak mereka ke pasar global kini memilih menyimpannya sendiri, membuat persaingan mendapatkan pasokan energi semakin ketat.

        Hassett menyebut pemerintah AS sudah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari pelepasan 172 juta barel dari cadangan strategis nasional, koordinasi dengan Badan Energi Internasional (IEA) yang melepas 400 juta barel cadangan darurat global, pelonggaran sanksi minyak Rusia untuk India, hingga pengawalan tanker lewat jalur militer AS.

        Baca Juga: Amerika Serikat Desak Korea Selatan Amankan Selat Hormuz: Demi Stabilitas Ekonomi Global

        "Kami benar-benar punya rencana untuk setiap sudut gangguan, dari pupuk hingga pengiriman bahan bakar ke Pantai Barat dan sebagainya. Dan kami sangat yakin bahwa kami sudah mengendalikan situasi ini dan perang akan segera berakhir," ujarnya.

        Semua langkah itu bersifat sementara dan tidak menyentuh soal utamanya: Selat Hormuz belum benar-benar terbuka, dan Iran yang menentukan kapan itu terjadi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: