Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Brent Crude Oil Melonjak, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

        Harga Brent Crude Oil Melonjak, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama Kredit Foto: Pixabay/jdblack
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak mentah dunia, khususnya Brent Crude Oil, menunjukkan tren penguatan signifikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Minyak Brent bHkan diperkirakan bergerak di kisaran 110 hingga 116 dolar AS per barel.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan kenaikan ini didorong oleh meningkatnya risiko pasokan, seiring eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Israel. 

        Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, 20 Negara Siap Jaga Jalur Minyak Dunia dari Konflik Iran-AS

        Iran yanh merupakan salah satu produsen utama minyak jenis Brent bersama Irak, dilaporkan terus melancarkan serangan jarak jauh ke sejumlah target strategis, termasuk fasilitas energi dan kepentingan militer di kawasan.

        "Jadi yang terlihat penguatannya cukup tajam itu adalah brain crude oil kenapa? Karena Iran salah satu negara penghasil ya Iran, Irak salah satu penghasil brain crude oil ya untuk bahan bakar avtur," kata Ibrahim dalam pernyataannya kepada wartawan, Minggu (21/3/2026).

        Di sisi lain, lanjut Ibrahim, konflik di Eropa Timur juga turut memperparah kondisi. Rusia dilaporkan melanjutkan serangan terhadap infrastruktur gas di Ukraina, yang semakin menekan pasokan gas alam dunia.

        "Ini membuat kemungkinan besar harga minyak gas alam ini akan terus mengalami kenaikan ya secara permanen ya yang kemungkinan besar akan cukup lama kenaikannya," jelas dia.

        Sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyampaikan bahwa sensitivitas APBN terhadap pergerakan harga minyak masih tinggi, seiring dengan konsumsi energi domestik yang besar dan ketergantungan pada energi fosil.

        “Setiap kenaikan harga minyak USD1 per barel bisa menambah beban subsidi energi sekitar Rp6,7 triliun. Ini jauh lebih besar dibandingkan tambahan penerimaan negara dari sektor migas,” ujar Fabby dalam keterangannya kepada Warta Ekonomi, dikutip Minggu (22/3/20206).

        Baca Juga: Harga Minyak Naik USD1, Beban Subsidi Energi Berpotensi Bertambah Rp6,7 T

        Ia menjelaskan, pergerakan harga minyak global menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi postur belanja negara, khususnya pada komponen subsidi dan kompensasi energi.

        Dalam beberapa skenario, ketika harga minyak berada di kisaran USD80 hingga USD110 per barel, tambahan beban subsidi disebut dapat meningkat signifikan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: