Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ancaman AS ke Iran Dorong Harga Minyak ke Level Tertinggi 4 Tahun

        Ancaman AS ke Iran Dorong Harga Minyak ke Level Tertinggi 4 Tahun Kredit Foto: SKK Migas
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak dunia diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan pada awal pekan setelah menutup perdagangan di level tertinggi dalam hampir empat tahun. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memperbesar ketidakpastian pasokan energi global.

        Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Mei tercatat menguat 3,26% menjadi US$112,19 per barel pada Jumat (20/3), sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak Juli 2022. Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya eskalasi geopolitik di kawasan Teluk.

        Tekanan di pasar muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tidak dipenuhi, Amerika Serikat mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik milik Iran.

        “Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam waktu 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik mereka,” ujar Trump.

        Menanggapi ancaman tersebut, Iran memperingatkan akan melakukan serangan terhadap infrastruktur yang berkaitan dengan Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi dan instalasi desalinasi, apabila serangan benar-benar dilakukan.

        Analis IG, Tony Sycamore, menilai ultimatum tersebut meningkatkan ketidakpastian pasar dalam jangka pendek.

        “Ancaman Presiden Trump menciptakan ketidakpastian besar dalam 48 jam ke depan. Jika ultimatum tidak dicabut, harga minyak berpotensi melonjak,” ujarnya, mengutip Reuters, Senin (23/3/2026). 

        Pandangan serupa disampaikan pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, yang menilai eskalasi konflik akan berdampak langsung pada kenaikan harga energi global.

        “Situasi ini mengarah pada eskalasi lanjutan yang berarti harga minyak lebih tinggi. Upaya menunjukkan dominasi justru berisiko merusak infrastruktur energi di kawasan Teluk,” katanya.

        Konflik yang telah berlangsung hampir empat minggu ini telah mengganggu pasokan energi global. Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur penting yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia menyebabkan hilangnya sekitar 440 juta barel pasokan selama 22 hari konflik berlangsung.

        Sebagai respons terhadap serangan terhadap infrastrukturnya, Iran dilaporkan telah menyerang sejumlah pelabuhan dan kilang minyak di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

        Namun demikian, Iran belum menargetkan fasilitas desalinasi besar di kawasan tersebut yang menjadi sumber pasokan air bagi jutaan penduduk. Kerusakan pada fasilitas tersebut berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan serta gangguan listrik secara luas.

        Di sisi lain, selisih harga antara minyak WTI dan Brent melebar ke level tertinggi dalam 11 tahun, mencerminkan gangguan distribusi serta perbedaan tekanan pasokan antar wilayah.

        Baca Juga: Blokade Minyak AS Picu Krisis Energi, Sistem Listrik Kuba Ambruk Dua Kali Sepekan

        Baca Juga: Harga Minyak Naik USD1, Beban Subsidi Energi Berpotensi Bertambah Rp6,7 T

        Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, 20 Negara Siap Jaga Jalur Minyak Dunia dari Konflik Iran-AS

        Secara mingguan, harga Brent tercatat naik sekitar 8,8%, mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya risiko geopolitik.

        Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa pemulihan pasokan dari kawasan Teluk dapat memakan waktu hingga enam bulan jika gangguan terus berlanjut.

        Selain itu, pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi untuk memblokade atau mengambil alih Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran, sebagai bagian dari upaya menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: