Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Inggris Siapkan Kapal ke Selat Hormuz, Harga Minyak Terancam Naik

        Inggris Siapkan Kapal ke Selat Hormuz, Harga Minyak Terancam Naik Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Inggris menyiapkan pengerahan kapal Angkatan Laut Kerajaan ke Selat Hormuz di tengah meningkatnya gangguan jalur perdagangan energi global. Langkah ini menandai eskalasi konflik yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dalam waktu dekat.

        Kapal RFA Lyme Bay yang saat ini berada di Gibraltar akan dilengkapi teknologi drone otonom untuk mendeteksi dan menetralisir ranjau laut. Sistem ini mencakup drone bawah air serta kapal pemburu ranjau yang mampu menjalankan operasi pembersihan dasar laut secara terpadu.

        Awalnya, kapal tersebut dijadwalkan menjalani latihan militer di kawasan Laut Mediterania. Namun, perkembangan situasi membuat pemerintah Inggris menyiapkan skenario alternatif untuk mengerahkan kapal tersebut ke Selat Hormuz.

        Menteri Pertahanan Inggris John Healey disebut telah menyetujui rencana kontinjensi tersebut sebagai langkah antisipatif untuk menjaga keamanan jalur pelayaran dari ancaman ranjau.

        Mengutip laporan Anadolu Agency, RFA Lyme Bay akan difungsikan sebagai pusat operasi pembersihan ranjau dengan kemampuan pemindaian dasar laut dan penjinakan bahan peledak. Kapal ini juga mampu membawa hingga 500 personel serta dilengkapi fasilitas medis dan sistem persenjataan.

        Seorang sumber pertahanan menyatakan keputusan akhir terkait pengerahan kapal tersebut masih dalam pembahasan.

        “Belum ada keputusan yang diambil terkait pengerahan ke Selat Hormuz. Langkah pencegahan ini memberikan opsi bagi para menteri jika diperlukan untuk membantu memulihkan kelancaran arus pelayaran niaga,” ujar sumber tersebut.

        Di saat yang sama, unit drone Royal Navy Mine and Threat Exploitation Group yang telah berada di kawasan tersebut juga dipertimbangkan untuk mendukung operasi. Kehadiran unit ini diharapkan dapat memperkuat pengamanan salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia.

        Presiden Donald Trump sebelumnya mengkritik respons Inggris terhadap krisis Timur Tengah. Ia menyatakan “tidak senang” dan menilai Inggris “seharusnya terlibat lebih aktif” dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz.

        Di sisi lain, militer Amerika Serikat turut meningkatkan kehadirannya di kawasan. Komando Pusat AS atau United States Central Command menyatakan kapal amfibi USS Tripoli (LHA-7) telah tiba di wilayah operasional Timur Tengah.

        “Pelaut dan Marinir Amerika Serikat di atas USS Tripoli telah tiba di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS pada 27 Maret,” demikian pernyataan resmi tersebut.

        Ketegangan meningkat setelah sejak akhir Februari Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu.

        Baca Juga: Pemerintah Putar Otak Agar Kapal Indonesia Bisa Melintas di Selat Hormuz

        Baca Juga: Respons Trump Soal Iran Pungut Rp33,8 Miliar per Kapal yang Ingin Melewati Selat Hormuz

        Baca Juga: Inggris Siap Pimpin Operasi Militer Buka Selat Hormuz, Kerahkan Drone dan Kapal Perang

        Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah negara, termasuk Israel, YordaniaIrak, serta negara-negara Teluk. Serangan ini menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan sektor penerbangan.

        Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari. Gangguan sejak awal Maret telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global naik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: