Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Respons Trump Soal Iran Pungut Rp33,8 Miliar per Kapal yang Ingin Melewati Selat Hormuz

Respons Trump Soal Iran Pungut Rp33,8 Miliar per Kapal yang Ingin Melewati Selat Hormuz Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kebijakan Iran yang mulai mengenakan biaya bagi kapal dagang di Selat Hormuz memicu protes dari Presiden Donald Trump di tengah meningkatnya ketegangan global. Langkah ini dinilai berpotensi menjadi sumber tekanan baru bagi ekonomi dunia, khususnya sektor energi.

Trump menilai jalur internasional tersebut seharusnya tidak dikenakan pungutan oleh pihak mana pun. Ia menegaskan kebijakan Iran berpotensi melanggar prinsip kebebasan navigasi global.

"Seharusnya mereka tak bisa melakukan itu, tetapi mereka sedang melakukannya sedikit," kata Trump dikutip dari Sputnik.

Wacana pungutan tersebut sebelumnya disampaikan oleh anggota parlemen Iran Mohammadreza Rezaei Kouchi. Ia menyebut langkah itu sebagai bagian dari kebijakan negara dalam merespons dinamika konflik yang terus berkembang.

Kebijakan tersebut kemudian berkembang menjadi implementasi nyata di lapangan. Sejumlah laporan menyebut Iran mulai memberlakukan biaya bagi kapal yang melintas di jalur strategis tersebut.

Melansir Bloomberg, besaran pungutan bahkan mencapai 2 juta dollar AS atau sekitar Rp33,8 miliar per kapal. Nilai tersebut dinilai sangat tinggi dan berpotensi meningkatkan biaya logistik global secara signifikan.

Langkah ini muncul di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari 2026. Eskalasi militer yang terjadi telah menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di berbagai wilayah, termasuk Teheran.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah. Sasaran mencakup wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika yang berada di beberapa negara.

Ketegangan tersebut berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur vital ini kini mengalami gangguan serius yang bahkan disebut sebagai blokade de facto.

Selama ini, Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. Sekitar sebagian besar pasokan energi global bergantung pada kelancaran arus di kawasan tersebut.

Baca Juga: Bela Trump, Senator Partai Republik: Serangan ke Iran Justru untuk Mengakhiri Perang

Penerapan pungutan oleh Iran dinilai dapat memperparah tekanan terhadap pasar energi global. Biaya tambahan tersebut berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga energi.

Kondisi ini terjadi di tengah tren kenaikan harga minyak yang sudah dipicu oleh konflik kawasan. Gangguan pasokan dari negara produsen utama semakin memperketat keseimbangan pasar energi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: