Diakui Trump, Internal Gedung Putih Ribut Soal Perang Amerika Serikat dan Iran
Kredit Foto: Istimewa
Internal Amerika Serikat mengalami konflik terkait dengan pandangan mereka dalam menghadapi isu nuklir hingga perang dengan Iran. Hal ini menyusul konflik yang berkepanjangan negara negara tersebut di Timur Tengah.
Dikutip dari Reuters, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui adanya perbedaan pandangan di antara pejabat tinggi pemerintahannya terkait pendekatan terhadap Iran. Ia mengaku mereka berdebat terkait dengan cara menghadapi isu nuklir dari Teheran.
Baca Juga: Trump Klaim Amerika Serikat Telah Berunding dengan Iran, Begini Hasilnya
Trump dalam hal ini secara terbuka menyinggung Kepala Intelijen Nasional Amerika Serikat, Tulsi Gabbard. Ia menilai salah satu orang kepercayaan tersebut memiliki pendekatan lebih lunak dibanding dirinya dalam menghadapi ambisi nuklir dari Iran.
Ia sendiri menegaskan bahwa dirinya tetap berpegang pada posisi tegas bahwa senjata nuklir tidak boleh dimiliki oleh Iran. Trump bahkan menyatakan keyakinannya bahwa negara tersebut akan segera menggunakan senjata tersebut jika berhasil memilikinya.
Adapun Trump menilai perbedaan pandangan di dalam pemerintahan merupakan hal yang wajar dan tidak menghalangi kerja sama antarpejabat terkait dengan perang dari Amerika Serikat dan Iran.
Trump juga menyoroti soal nuklir dalam proposal damainya dengan Iran. Ia ingin negara tersebut untuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.
Sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance dilaporkan mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap konflik dengan Iran. Elite Partai Republik disebut-sebut juga khawatir terhadap dampak ekonomi dan politik domestik dari perang tersebut.
Pemerintahan Trump juga dinilai memberikan pesan yang tidak konsisten terkait status program nuklir dari Iran. Sebelum konflik memanas, beberapa pejabat menyebut bahwa bahan senjata nuklir telah dihancurkan oleh operasi militer yang dijalankan sebelumnya oleh Amerika Serikat.
Tulsi Gabbard sebelumnya juga menyampaikan kepada parlemen bahwa intelijen memiliki keyakinan tinggi mengenai lokasi penyimpanan uranium yang telah diperkaya oleh Iran. Namun, ia tidak menjelaskan secara terbuka apakah pihaknya memiliki kemampuan untuk menghancurkan fasilitas tersebut.
Orang Dekat Gabbard, Joe Kent di sisi lain mengejutkan publik dengan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia juga menyatakan bahwa tak ada ancaman langsung bagi negara dari Iran.
Adapun Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Di sisi lain, internal negara tersebut sebelumnya dilaporkan semaki memanas terkait dengan perbedaan pandangan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Sejumlah tokoh internal mulai secara terbuka mempertanyakan kebijakan lama yang menolak pengembangan senjata nuklir. Salah satu wacana yang semakin menguat adalah kemungkinan negara tersebut keluar dari Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT).
Dalam perkembangan terbaru, diskusi mengenai pembangunan bom nuklir yang sebelumnya tabu kini juga mulai muncul secara terbuka. Media lokal menyebut bahwa publik menuntut langkah tegas untuk memiliki senjata nuklir, baik dengan membangun sendiri atau mendapatkannya.
Baca Juga: Iran Soroti Demo No Kings di Amerika Serikat: Publik Marah Akibat Dominasi Israel di AS
Kebijakan nuklir sebelumnya sangat dipengaruhi oleh fatwa dari Khamenei. Ia disebut telah menyatakan senjata nuklir haram dalam Islam. Namun, fatwa tersebut tidak pernah ditulis secara resmi dan kini statusnya dipertanyakan setelah kematiannya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: