Bahayakan Kebebasan Navigasi, Rencana Iran Kenakan Tarif di Selat Hormuz Bisa Ditiru Negara Lain
Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Yunani memberikan kritikas pedas terkait dengan rencana pengenaan biaya untuk kapal yang ingin melintas dari Selat Hormuz. Hal tersebut diketahui merupakan bagian poin tuntutan negosiasi dari Iran dan Amerika Serikat.
Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis menolak keras rencana dari Teheran. Menurutnya, langkah tersebut tidak dapat diterima dan berpotensi menciptakan preseden berbahaya bagi kebebasan navigasi global.
Baca Juga: Respons Serangan Israel, Iran Enggan Lanjutkan Gencatan Senjata dengan Amerika Serikat
"Saya rasa komunitas internasional tidak akan siap menerima mereka mendirikan pos tol untuk setiap kapal yang melintasi selat. Bagi saya, itu sama sekali tidak dapat diterima," kata Mitsotakis.
Selat Hormuz menurutnya selama ini dikenal sebagai jalur dengan kebebasan navigasi, dan hal tersebut harus tetap dipertahankan. Ia menyebut gagasan menjadikan jalur tersebut sebagai toll booth atau gerbang berbayar sebagai langkah yang tidak dapat diterima oleh komunitas internasional.
Mitsotakis menilai penerapan tarif akan membebani industri pelayaran global dan mengganggu arus perdagangan. Ia menyatakan bahwa jika diperlukan, pengaturan jalur tersebut sebaiknya dilakukan melalui kesepakatan internasional. Namun, ia menegaskan bahwa perjanjian tersebut tidak boleh mencakup pungutan biaya bagi kapal.
Ia memperingatkan bahwa jika tarif diberlakukan, hal tersebut dapat membuka jalan bagi negara lain untuk melakukan hal serupa di jalur strategis lainnya. Langkah tersebut dinilai berisiko mengganggu sistem perdagangan global yang selama ini bergantung pada prinsip kebebasan navigasi.
"Tetapi perjanjian ini tidak dapat, saya ulangi, tidak dapat mencakup semacam biaya yang harus dibayar kapal setiap kali mereka melintasi selat. Ini tidak terjadi sebelum perang dimulai dan tidak dapat terjadi setelah perang berakhir. Kita akan menetapkan preseden yang sangat, sangat berbahaya, jika itu terjadi, bagi kebebasan navigasi," katanya.
Rencana Iran untuk memungut biaya muncul di tengah pembahasan gencatan senjata dan negosiasi dengan Amerika Serikat. Sebelumnya, bahkan sempat muncul wacana kerja sama pengelolaan tarif antara kedua negara.
Iran, dalam proposal damainya, menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, terdapat syarat tambahan berupa biaya sekitar US$2 juta per kapal yang melintas dalam jalur tersebut. Biaya ini rencananya akan dibagi dengan Oman.
Adapun Iran juga akan menggunakan bagian dari pendapatannya untuk membiayai rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat serangan dari Israel dan Amerika Serikat. Pendekatan ini disebut sebagai alternatif dari tuntutan kompensasi langsung.
Baca Juga: Kecam Serangan Israel, Prancis Desak Lebanon Masuk Gencatan Senjata Iran dan Amerika Serikat
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar dua puluh persen pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan atau perubahan kebijakan di jalur ini berpotensi berdampak besar terhadap perdagangan global dan stabilitas harga energi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: