Kredit Foto: Istimewa
Peran strategis Bank Pembangunan Daerah (BPD) kembali mengemuka di tengah meningkatnya tekanan fiskal daerah dan tren penurunan dana transfer ke daerah (TKD). BPD dinilai perlu bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi regional melalui inovasi pembiayaan dan penguatan kolaborasi.
Hal tersebut menjadi sorotan dalam Seminar Nasional BPD yang diselenggarakan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) bersama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) di Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (17/4/2026).
Kegiatan ini mengusung tema “Memperkuat Peran BPD sebagai Mitra Strategis Pemerintah Daerah melalui Inovasi Pembiayaan dan Pinjaman Daerah” dan dihadiri jajaran direksi BPD dari seluruh Indonesia.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa BPD merupakan salah satu indikator penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan jumlah penduduk Jawa Tengah yang mendekati 38 juta jiwa serta wilayah yang luas, ia menilai pembangunan tidak dapat dilakukan secara parsial.
“Bank daerah ini adalah salah satu indikator dalam rangka meningkatkan ekonomi daerah. Tapi kita tidak bisa bekerja sendiri, harus kolaboratif,” ujar Luthfi.
Ia menyoroti keterbatasan fiskal sebagai tantangan utama pemerintah daerah. Menurutnya, kontribusi anggaran pusat belum cukup untuk menopang pembangunan, sehingga daerah perlu mengoptimalkan sumber pembiayaan alternatif, terutama dari investasi.
“Lebih dari 80 persen pembangunan daerah ditopang dari investasi. Maka kepala daerah harus menjadi ‘marketing’ untuk menarik investor,” tegasnya.
Luthfi juga menekankan pentingnya pendekatan pembangunan yang terintegrasi dan kolaboratif. “Kita tidak bisa menyelesaikan persoalan daerah secara sepotong-sepotong. Harus bersama-sama, saling mendukung, dan bergerak serentak,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua Umum Asbanda, Agus H. Widodo, menyatakan bahwa BPD harus bertransformasi dari peran administratif menjadi institusi yang aktif dalam intermediasi keuangan.
“BPD tidak boleh lagi hanya menjadi tempat parkir dana pemerintah daerah. BPD harus naik kelas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, BPD harus mampu berperan sebagai pengelola aliran dana, penjaga likuiditas, sekaligus penggerak ekonomi regional. Dalam konteks keterbatasan fiskal, menurutnya, diperlukan pendekatan baru dalam pembiayaan pembangunan daerah.
“Apakah pembangunan daerah akan terus bergantung pada kapasitas fiskal semata, atau kita mulai membangun kekuatan baru melalui intermediasi keuangan yang lebih aktif?” katanya.
Agus menilai kedekatan BPD dengan pemerintah daerah serta pemahaman terhadap karakter ekonomi lokal menjadi keunggulan yang harus dimaksimalkan. Ia juga mendorong optimalisasi inovasi pembiayaan, termasuk skema pinjaman daerah dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Kami tidak meminta pelonggaran, tetapi pendekatan yang lebih presisi berbasis risiko dalam pembiayaan sektor publik daerah,” jelasnya.
Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widiyatmoko, menambahkan bahwa tren penurunan TKD yang terjadi sejak 2020 hingga 2026 harus menjadi momentum bagi BPD untuk memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan daerah.
“BPD harus mampu membantu pemerintah daerah menyiasati penurunan TKD, tanpa menghambat program prioritas pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antar-BPD, termasuk melalui skema sindikasi pembiayaan untuk mendukung proyek-proyek strategis daerah.
“Jika kita bersatu, tidak ada satu pun proyek infrastruktur strategis daerah yang tidak bisa kita biayai bersama,” tegas Bambang.
Baca Juga: Tak Sekedar Penyalur Dana, Ketua Asbanda: BPD Harus Naik Kelas Jadi Orkestrator Keuangan Daerah
Dalam seminar ini, sejumlah narasumber turut memberikan perspektif terkait penguatan peran BPD. Di antaranya Direktur Pembiayaan dan Perekonomian Daerah Kementerian Keuangan Adriyanto, Kepala Subdirektorat Pembiayaan Daerah Kementerian Dalam Negeri Siti Chomzah, serta Pemimpin Redaksi Majalah Infobank Eko B. Supriyanto.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Undian Tabungan Simpeda Nasional Periode ke-2 Tahun XXXVI-2026 yang telah diawali dengan penyegelan alat undian, gala dinner, dan expo di Surakarta.
Puncak acara undian dengan total hadiah Rp3 miliar dijadwalkan berlangsung pada Jumat (17/4) malam di Ballroom Utama Hotel Alila Surakarta, yang akan dimeriahkan oleh penampilan Ari Lasso dan Maliq & D’Essentials.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: