Rakyat AS Rasakan Imbasnya Langsung Akibat Konflik di Selat Hormuz
Kredit Foto: AFP
Penjualan ritel di Amerika Serikat (AS) dilaporkan melonjak 1,7 persen pada bulan Maret. Namun, kenaikan ini bukanlah sinyal positif bagi perekonomian, melainkan imbas langsung dari meroketnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat konflik yang tengah berlangsung antara AS dan Iran.
Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS yang dirilis Selasa (21/4), penjualan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) melonjak tajam hingga 15,5 persen. Angka ini mencatatkan rekor kenaikan tertinggi sejak pemerintah AS mulai melakukan pencatatan pada tahun 1992.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh konflik di Iran yang telah berkecamuk sejak 28 Februari lalu. Ketegangan geopolitik tersebut mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, titik perairan vital yang melayani sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Peningkatan angka penjualan ritel yang didorong oleh inflasi harga BBM ini menjadi kabar buruk bagi warga Amerika Serikat yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi sebagai moda transportasi utama.
Pakar ekonomi sekaligus pendiri Center for Economic and Policy Research, Dean Baker, memperingatkan bahwa dompet rakyat AS akan semakin tergerus jika konflik terus berlarut-larut.
"Jika situasi dengan Iran tidak segera diselesaikan, harga minyak dan gas akan semakin meningkat. Ini akan sangat menekan pengeluaran konsumen di sektor lain, bahkan berpotensi menyeret pertumbuhan konsumsi ke zona negatif," ungkap Baker kepada Xinhua.
Para pejabat pemerintah AS juga telah memberi sinyal bahwa harga energi tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Menteri Energi AS, Chris Wright, memperkirakan harga bensin di negaranya kemungkinan besar tidak akan turun ke bawah level 3 dolar AS (sekitar Rp17.142) per galon hingga tahun depan.
"Bisa saja turun tahun ini, tetapi kemungkinan besar baru akan terjadi tahun depan. Namun, harga saat ini sepertinya sudah mencapai puncaknya," jelas Wright dalam wawancaranya bersama CNN, Minggu (19/4).
Ia menegaskan bahwa kunci utama untuk menekan kembali harga energi global adalah penyelesaian konflik di Timur Tengah tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: