Peringatan ke Amerika Serikat, Ini Cara Garda Revolusi Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Iran menyita dua kapal kontainer yang berusaha melalui Selat Hormuz. Insiden ini menjadi penyitaan pertama yang dilakukan negara tersebut sejak perang berkecamuk dari Iran, Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan bahwa pihaknya telah menembaki dua kapal bernama MSC Francesca dan Epaminondas. Kedunya berbendera Panama dan Liberia. Pihaknya menilai bahwa kedua kapal tersebut telah beroperasi tanpa izin serta memanipulasi sistem navigasi mereka. Tuduhan ini menjadi dasar tindakan penyitaan oleh Iran.
Baca Juga: Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Rontok 10%
Epaminondas diketahui dilaporkan ditembaki sekitar 15 mil laut barat laut Oman. Kapal tersebut mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah terkena tembakan dan granat berpeluncur roket dari kapal cepat milik IRGC.
Ia sendiri membawa 21 awak yang terdiri dari warga Ukraina dan Filipina. Tidak ada laporan korban jiwa, namun kapal mengalami kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.
MSC Francesca di sisi lain juga terkena tembakan sekitar delapan mil laut dari wilayah Iran. Namun kapal tersebut dilaporkan tidak mengalami kerusakan dan seluruh awak dinyatakan selamat. Satu kapal lainnya juga ditembaki, tetapi berhasil melanjutkan pelayaran tanpa kerusakan.
IRGC kini memperingatkan gangguan keamanan terhadap Selat Hormuz. Pihaknya menyatakan bahwa setiap gangguan terhadap keamanan jalur tersebut akan dianggap sebagai “garis merah” terhadap gencatan senjata antara pihaknya dengan Israel dan Amerika Serikat.
Diketahui Iran sebelumnya memberlakukan pembatasan ketat terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz. Hal tersebut bermulai akibat serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Teheran.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 130 kapal per hari dan menangani sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Namun sejak konflik dimulai, jumlah kapal yang melintas sempat turun drastis menjadi sekitar sembilan kapal per hari.
Data menunjukkan lalu lintas sempat meningkat menjadi sekitar 20 kapal per hari saat jalur tersebut sempat dibuka kembali, sebelum kembali dibatasi. Kondisi ini menambah tekanan terhadap perdagangan energi global.
Baca Juga: Ultimatum Baru Amerika Serikat ke Iran: Damai atau Dihancurkan
Insiden penyitaan kapal ini mempertegas eskalasi konflik dalam kawasan terkait dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur perdagangan internasional yang krusial, yang terganggu akibat perang dari Iran, Israel dan Amerika Serikat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: