Bisnis Tambang Grup Astra Tertekan di Kuartal I 2026, United Tractors hingga Emas Martabe Turun Laba
Kredit Foto: United Tractors
Kinerja bisnis tambang Grup Astra mengalami tekanan pada kuartal I 2026 dan menjadi faktor utama yang menahan laju kinerja konsolidasi perseroan pada awal tahun. Pelemahan ini terutama berasal dari anjloknya kontribusi bisnis pertambangan emas, penurunan permintaan alat berat, serta melambatnya aktivitas jasa kontraktor tambang di tengah tantangan pasar komoditas.
PT Astra International Tbk mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp5,85 triliun pada kuartal I 2026, turun 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,93 triliun. Pendapatan bersih perseroan juga turun 6% menjadi Rp78,67 triliun. Manajemen menyebut penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya kontribusi dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama laba Grup.
Tekanan paling besar datang dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi yang laba bersihnya anjlok 79% menjadi hanya Rp408 miliar, dari Rp1,96 triliun pada kuartal I 2025. Bahkan tanpa memperhitungkan beban non-berulang sebesar Rp723 miliar pada bisnis nikel dan panas bumi yang dibukukan United Tractors, laba bersih divisi ini tetap turun 42% menjadi Rp1,1 triliun.
Pelemahan tersebut terutama dipicu merosotnya bisnis tambang emas. Penjualan emas dari unit tambang United Tractors turun 93% menjadi hanya 4.000 ons, dari 57.000 ons pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan tajam ini terutama disebabkan tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe akibat penghentian sementara operasional. Kondisi ini menjadi pukulan besar, mengingat emas sebelumnya menjadi salah satu kontributor penting bagi profitabilitas lini tambang Astra.
Meski demikian, ada sinyal pemulihan dari segmen emas. Astra menyebut Tambang Emas Martabe telah menerima persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup pada Maret 2026 untuk kembali melanjutkan kegiatan operasional. Persetujuan ini membuka peluang normalisasi produksi dan penjualan emas pada kuartal-kuartal berikutnya, meski pemulihannya kemungkinan berlangsung bertahap.
Selain emas, bisnis alat berat juga menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan dari sektor pertambangan. Penjualan alat berat Komatsu turun 20% menjadi 1.107 unit pada kuartal I 2026. Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian pelaku tambang dalam belanja modal, terutama setelah alokasi RKAB batu bara nasional 2026 lebih rendah, yang berdampak pada aktivitas produksi dan ekspansi pelanggan tambang.
Tekanan juga merembet ke bisnis jasa kontraktor tambang. PT Pamapersada Nusantara, anak usaha United Tractors di sektor jasa penambangan, mencatat volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) turun 7% menjadi 236 juta bank cubic metres. Penurunan ini menunjukkan aktivitas operasional tambang yang lebih rendah, sejalan dengan penyesuaian produksi di sektor batu bara.
Di tengah tekanan pada emas dan alat berat, bisnis batu bara masih memberi bantalan terbatas. Anak usaha tambang batu bara United Tractors mencatat penjualan batu bara 4 juta ton, naik dari 3,2 juta ton pada kuartal I 2025. Namun kenaikan volume ini belum cukup untuk menutup pelemahan tajam dari emas serta lesunya permintaan alat berat dan jasa tambang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: