Waspada Hantavirus, Virus Langka dan Mematikan di Balik Wabah Kapal Pesiar di Afrika
Kredit Foto: Istimewa
Wabah di kapal pesiar yang baru-baru menewaskan tiga orang kembali membuat dunia menyoroti bahaya dari Hantavirus. Ia merupakan virus langka namun berpotensi mematikan, yang ditularkan dari hewan pengerat ke manusia.
Menurut World Health Organization (WHO), hantavirus merupakan kelompok virus yang menyebar melalui tikus atau hewan pengerat lainnya. Penularan umumnya terjadi saat manusia menghirup partikel virus dari urin, kotoran atau air liur hewan tersebut, terutama ketika area terkontaminasi dibersihkan.
Baca Juga: Dunia Dikejutkan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: 7 Kasus dan 3 Tewas
WHO memperkirakan terdapat sekitar 10.000 hingga 100.000 kasus hantavirus setiap tahun secara global, dengan tingkat keparahan yang berbeda tergantung jenis virusnya.
Gejala awal biasanya muncul dalam satu hingga delapan minggu setelah terpapar, berupa demam, nyeri otot, hingga gangguan pencernaan. Pada kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi kondisi serius yang menyerang paru-paru atau ginjal.
Di Amerika, hantavirus dapat menyebabkan sindrom kardiopulmoner yang berkembang cepat dan memicu penumpukan cairan di paru-paru. Tingkat kematiannya bisa mencapai 50%.
Sementara di Asia dan Eropa, infeksi lebih sering menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal, dengan tingkat kematian sekitar 1–15%.
Hingga saat ini belum ada obat spesifik untuk mengatasi hantavirus. Penanganan dilakukan melalui perawatan suportif seperti pemberian cairan, istirahat, dan bantuan pernapasan menggunakan ventilator pada kasus berat.
Salah satu varian hantavirus, yakni strain Andes yang banyak ditemukan di Argentina dan Chile, diketahui dapat menular antar manusia dalam kondisi tertentu, meski kasusnya sangat jarang. WHO menduga varian ini mungkin terkait dengan kasus di kapal pesiar, namun belum dikonfirmasi.
Para ahli menilai kejadian di kapal pesiar tergolong tidak biasa dan masih dalam penyelidikan. Meski demikian, WHO menegaskan bahwa risiko penyebaran luas kepada publik tetap rendah.
Secara global, tren peningkatan kasus juga mulai terlihat di kawasan Amerika. WHO mencatat lonjakan infeksi di negara seperti Bolivia dan Paraguay, serta meningkatnya tingkat kematian di Argentina dan Brazil.
Pencegahan utama tetap berfokus pada menghindari kontak dengan hewan pengerat, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan pelacakan kontak saat terjadi wabah.
Baca Juga: Urus SIM Kini Wajib JKN Aktif, BPJS Kesehatan dan Polri Uji Integrasi Sistem di Medan
Kasus terbaru ini menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan global, terutama di tengah mobilitas manusia yang tinggi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: