Diberondong Sentimen Baru, Harga Bitcoin (7/5) Sentuh US$82.000!
Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
Pasar kripto bergerak volatil pada perdagangan pagi hari di Kamis (7/5). Sejumlah sentimen besar muncul dan memengaruhi pergerakan aset digital, termasuk bitcoin yang sempat menembus level US$82.000.
Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin pada perdagangan terbaru turun ke kisaran US$81.000. Pergerakan harga bitcoin dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik dan pernyataan dari tokoh industri kripto yang memicu perubahan sentimen pasar dalam waktu singkat.
Baca Juga: CME Segera Luncurkan Bitcoin Volatility Futures, Ini Keunggulannya!
Salah satu sentimen yang sempat menekan pasar datang dari Chairman Strategy (MSTR), Michael Saylor. Ia menyatakan bahwa perusahaannya berpotensi menjual bitcoin untuk membayar dividen dari STRC.
Pernyataan Saylor memicu kepanikan jangka pendek di pasar dan membuat aksi ambil untung meningkat.
Di sisi lain, pasar juga merespons laporan mengenai kemungkinan tercapainya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran. Keduanya berpotensi sepakat untuk mengakhiri perang yang selama ini memicu gangguan besar pada pasar energi global.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa rancangan kesepakatan mencakup negosiasi antara Utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Pejabat Iran. Negosiasi sendiri bisa dilakukan secara langsung maupun melalui perantara.
Iran juga disebut akan menyetujui penghapusan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi dari dalam negeri, yang selama ini menjadi tuntutan utama Amerika Serikat. Namun, sejumlah pelaku pasar masih meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan permanen, terutama terkait isu nuklir dari Iran.
Kesepakatan Iran dan Amerika Serikat menjadi sorotan karena berpeluang normalisasi kembali arus minyak melalui Selat Hormuz. Jalur pelayaran dalam wilayah tersebut sebelumnya dilaporkan telah dipasangi ranjau oleh pasukan Iran.
Gangguan distribusi energi sejak perang keduanya meletus telah mengguncang pasar energi global, terutama di Asia. Wilayah tersebut diketahui sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Harapan de-eskalasi konflik sudah cukup untuk memicu perubahan posisi investor secara luas, dengan pasar mulai beralih ke aset berisiko termasuk kripto dan mengurangi eksposur pada sektor energi.
Adapun pelemahan dolar juga turut mempengaruhi pergerakan dari bitcoin. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan bahwa pihaknya telah mencapai tujuan militernya dan tidak tertarik pada eskalasi lanjutan.
Pernyataan Rubio ikut menekan harga minyak dunia dan meningkatkan optimisme bahwa inflasi energi dapat mereda.
Kondisi tersebut dinilai membuka ruang bagi bank sentral untuk memulai siklus penurunan suku bunga, berbeda dengan kekhawatiran sebelumnya bahwa perang dapat memicu kenaikan suku bunga akibat lonjakan inflasi.
Baca Juga: RUU Kripto Amerika Serikat Belum Final, Dua Pekan ke Depan Akan Krusial untuk Bitcoin Cs
Sentimen potensi penurunan suku bunga menjadi faktor positif bagi aset berisiko seperti bitcoin dan pasar kripto secara umum.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: