Aksi Nadiem Makarim Copot Pejabat yang Tolak Chromebook Disorot Lagi, Ada Konflik Kepentingan?
Kredit Foto: Istimewa
Kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang menyeret mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim terus menjadi sorotan.
Polemik itu makin panas setelah Nadiem dituntut 18 tahun penjara dalam perkara yang berkaitan dengan proyek pengadaan perangkat teknologi pendidikan tersebut.
Di media sosial, warganet ramai membahas dugaan konflik kepentingan dalam proyek pengadaan Chromebook yang dinilai sejak awal sarat kontroversi. Salah satu unggahan yang viral berasal dari akun Threads @bunga_04_daily.
"Gini yah guys. Nadiem itu melakukan pengadaan chromebook yang sarat akan konflik kepentingan. Saya juga tadinya nggak percaya, Nadiem seotak bisnis itu kah?" tulis akun tersebut.
"Saya pun berusaha denial, tapi semakin saya pelajari kasusnya, semakin terang benderang," ujarnya.
Pemilik akun kemudian menyoroti soal pencopotan pejabat internal kementerian yang sempat berbeda pandangan terkait penggunaan sistem operasi dalam proyek alat teknologi pendidikan.
Baca Juga: Hotman Paris Soal Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun: Makanya Sama Pengacara Tidak Boleh Pelit
Disebutkan, Nadiem diduga mencopot aparatur sipil negara (ASN) yang mengusulkan pengkajian sistem operasi seperti Linux, Windows, MacOS hingga ChromeOS sebelum pengadaan dilakukan.
“Dicopot bayangin... Mas Menteri hanya ingin ChromeOS... Dia melompati prosedural memilih tender barang secara adil,” ungkap unggahan tersebut.
Sorotan lainnya mengarah pada Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 5 Tahun 2021 yang dinilai mengunci penggunaan ChromeOS buatan Google dalam sistem pengadaan perangkat pendidikan nasional.
“Dia membangun ekosistem Google di instansi pendidikan kita,” lanjut unggahan yang ramai diperbincangkan itu.
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Nadiem Makarim Dituntut Bayar Rp5,6 T di Kasus Korupsi Chromebook
Sebelumnya, jaksa penuntut umum dalam sidang perdana kasus tersebut di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada Selasa (16/12/2025) turut mengungkap adanya pencopotan dua pejabat yang disebut menolak proyek Chromebook.
Jaksa menyatakan, dua pejabat yang dicopot yakni Khamim yang saat itu menjabat Direktur SD di Ditjen PAUDasmen serta Poppy Dewi Puspita yang menjabat Direktur SMP.
Pada 2 Juni 2020, posisi Khamim digantikan Sri Wahyuningsih, sementara jabatan Poppy diganti Mulyatsyah.
Kini, Sri Wahyuningsih dan Mulyatsyah ikut menjadi terdakwa bersama Nadiem Makarim serta konsultannya, Ibrahim Arief.
Jaksa Roy Riady menyebut salah satu alasan pergantian pejabat itu karena adanya perbedaan pandangan mengenai hasil kajian teknis pengadaan perangkat TIK.
"Salah satu alasan terdakwa Nadiem Anwar Makarim mengganti pejabat eselon 2 di antaranya Poppy Dewi Puspitawati karena berbeda pendapat terkait hasil kajian teknis yang tidak sesuai dengan arahan terdakwa Nadiem Anwar Makarim tidak setuju jika pengadaan merujuk kepada satu produk tertentu," kata jaksa Roy Riady.
Sepekan setelah pergantian pejabat tersebut, tepatnya 8 Juni 2020, dibentuk Tim Teknis Review Hasil Kajian Tim Teknis Analisis Kebutuhan Alat Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di SD dan SMP.
Dalam tim itu, Mulyatsyah menjabat ketua sementara Sri Wahyuningsih menjadi wakil ketua. Tim tersebut kemudian menghasilkan kajian yang menyatakan Chromebook dengan sistem operasi Chrome dianggap lebih unggul untuk alat bantu belajar siswa SD dan SMP.
Baca Juga: Drama Kasus Korupsi Chromebook Memanas, Nadiem Makarim Siapkan Perlawanan
"Bahwa Mulyatsyah dan Sri Wahyuningsih memerintahkan tim teknis membuat review Hasil Kajian Tim Teknis yang pada pokoknya untuk spesifikasi teknis yang direkomendasikan dalam pengadaan alat TIK Tahun Anggaran 2020 adalah sesuai arahan terdakwa Nadiem Anwar Makarim yaitu menggunakan Chromebook dengan Sistem Operasi Chrome lebih unggul," terang jaksa.
Jaksa juga menyoroti adanya transfer investasi besar dari Google ke Gojek dan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) yang terafiliasi dengan Nadiem. Hal itu membuat tak sedikit warganet menduga adanya konflik kepentingan terselubung karena proyek Chromebook sangat berkaitan dengan ekosistem Google.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: