Kredit Foto: Sufri Yuliardi
PT Buana Finance Tbk mencatat kenaikan rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) menjadi 3,12% sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan posisi 2024 sebesar 1,97%. Kenaikan tersebut dipicu tekanan global dan pelemahan daya beli masyarakat yang berdampak pada kualitas pembiayaan.
Direktur Pemasaran Buana Finance, Herman Lesmana, mengatakan kondisi ekonomi yang menantang sepanjang 2025 memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan bayar debitur. Selain itu, tekanan global pada 2026 juga mulai terasa akibat kenaikan harga bahan bakar imbas konflik geopolitik.
“Ini memang sejalan dengan tekanan ekonomi yang sangat luar biasa dan juga dampak dari kondisi global. Sebagai contoh, misalnya sudah terasa di 2026 karena terjadi perang sehingga harga bahan bakar juga meningkat dua kali lipat. Industri plastik juga meningkat 100%, ini dampaknya berimplikasi luas sekali,” ujarnya dalam Public Expose, Senin (18/5/2026).
Di tengah kenaikan NPF, Buana Finance tetap optimistis dapat menekan rasio pembiayaan bermasalah menjadi 2,61% pada 2026. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan menyiapkan strategi bisnis yang lebih selektif dengan fokus pada sektor berisiko rendah.
Ke depan, perusahaan akan mencari peluang pembiayaan yang minim risiko tetapi tetap potensial, sekaligus menjaga keseimbangan antara cost of fund (biaya dana) dan cost lending (biaya pinjaman) agar profitabilitas tetap terjaga.
“Antara cost of fund dan cost lending kita itu harus terjaga. Kita punya minimum margin spread supaya memberikan hasil yang tidak turun, tapi juga melakukan efisiensi di beberapa sektor,” katanya.
“Jadi kalau dilihat memang yang kami bidik sekarang ini sangat selektif karena melihat hasil sebelumnya,” lanjut Herman.
Baca Juga: Buana Finance Salurkan Pembiayaan Rp4,29 Triliun
Baca Juga: Adira Ungkap Tantangan Besar Pembiayaan Kendaraan Listrik
Baca Juga: OJK Warning! Praktik 'STNK Only' Ancam Industri Pembiayaan
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Buana Finance, Mariana Setyadi, mengatakan salah satu strategi utama untuk menekan NPF dilakukan melalui pembenahan sistem loan origination atau proses pemberian kredit kepada nasabah.
“Kita pasti akan ada pembenahan dari sisi loan origination dengan melihat kembali parameter-parameter dalam memberikan kredit ke customer kami agar kualitas loan origination kami untuk new disbursement dapat terjaga yang dapat membantu menurunkan NPF yang saat ini per Desember itu 3,12%,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: