Kredit Foto: Azka Elfriza
Inflasi medis masih menjadi tantangan utama industri asuransi kesehatan di tengah kenaikan biaya layanan medis dan kebutuhan menjaga daya beli nasabah. PT Prudential Indonesia menyebut laju inflasi medis saat ini masih berada dua hingga tiga kali di atas inflasi umum sehingga berpotensi menekan keberlanjutan industri.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan tekanan inflasi medis tidak hanya dipicu kenaikan biaya perawatan, tetapi juga meningkatnya total pengeluaran kesehatan (health care spending) dan penggunaan teknologi medis baru.
“Makin banyak yang sakit, terus karena ada teknologi-teknologi baru. Ini awal tahun sudah mulai ada new generation diabetes drugs yang baru lah, macam-macam. Tentu itu untuk output yang lebih baik,” ujar Yosie usai Konferensi Pers Peluncuran Asuransi Jiwa PRULady di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, tekanan inflasi medis bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dirasakan sejumlah negara lain seperti Singapura, Malaysia, hingga Hong Kong.
“Ini target kita bersama, harapan dari OJK, semuanya harapannya bisa ditekan mendekati general inflation. Sekarang masih dua atau tiga kali, dan itu bukan cuman di Indonesia,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Prudential melakukan pemetaan tren inflasi medis melalui studi internal dan kajian perusahaan reasuransi regional. Perseroan juga menjalankan strategi close network melalui program PRUPriority Hospital dengan memperkuat kerja sama dan negosiasi tarif layanan bersama rumah sakit rekanan.
“Cara kita mengendalikan adalah kita dekat dengan rumah sakit, kita negosiasi sama rumah sakit. Kita bilang kalau kerja sama dengan Prudential ada kualitas yang harus dijaga, ada tarif yang harus dijaga,” ujarnya.
Yosie menjelaskan strategi tersebut diarahkan untuk menekan potensi kenaikan premi kesehatan atau repricing agar tetap sesuai dengan kemampuan masyarakat.
“Supaya nantinya kalau kita ada fenomena repricing akan naikan premi, sehingga nanti itu bisa kita redam bersama-sama. Harapannya, produk kita jangka panjang, kita harus sustainable, kita harus pikirkan kemampuan membeli, membayar dari masyarakat juga harus kita perhatikan,” katanya.
Baca Juga: OJK Ungkap Dampak PHK ke Industri Asuransi, Risiko Klaim dan Gagal Bayar Naik
Baca Juga: Aset Asuransi RI Capai Rp1.195 Triliun, OJK Ungkap Premi Melemah
Selain itu, Prudential melakukan evaluasi rutin terhadap rumah sakit mitra melalui mekanisme utilization review dan performance review. Evaluasi mencakup kualitas layanan, kepatuhan tarif, serta tren penggunaan layanan kesehatan.
Meski melakukan pengawasan tarif, Prudential menegaskan tetap membuka ruang dialog dengan rumah sakit untuk menjaga keseimbangan kepentingan industri dan kebutuhan investasi layanan kesehatan.
“Tentu kita harus terbuka. Kita tidak mau cekik rumah sakit, harus sama-sama bisa survive. Tapi kita selalu katakan, masyarakat atau customer bagaimana. Jangan sampai sama-sama mau menjaga kepentingan, tapi nanti nasabahnya dikorbankan,” ujar Yosie.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: