Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terus mengalami tekanan tajam sepanjang 2026. Berdasarkan data perdagangan per 26 Mei 2026, saham emiten Grup Sinar Mas itu ditutup di level Rp432 per saham atau telah merosot 89,03% secara year to date (YTD) dibanding posisi awal tahun.
Penurunan tersebut terjadi di tengah keluarnya DSSA dari indeks global MSCI dan FTSE Russell pada Mei 2026. Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah rendahnya porsi saham beredar di publik (free float) sehingga dinilai mengganggu likuiditas perdagangan saham perseroan.
Dalam perdagangan terakhir, saham DSSA sempat dibuka di level Rp472 dan menyentuh harga tertinggi Rp540 sebelum kembali melemah hingga menyentuh level terendah Rp432. Kapitalisasi pasar perseroan tercatat sekitar Rp83,22 triliun.
Tekanan pada saham DSSA semakin terlihat setelah indeks global mulai mengevaluasi ulang kelayakan saham dengan likuiditas rendah. MSCI dan FTSE Russell diketahui menghapus DSSA dari indeks global pada Mei 2026 menyusul minimnya saham yang beredar di publik.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Maret 2026 menunjukkan struktur kepemilikan saham DSSA sangat terkonsentrasi. PT Sinar Mas Tunggal menguasai 59,90% saham perseroan, sementara DSSA sendiri memegang 19,68% saham treasury.
Selain itu, sejumlah institusi lain seperti UOB Kay Hian, Fitzgerald & Wilkinson, serta Citibank Hong Kong juga tercatat menggenggam porsi signifikan saham perseroan. Kondisi tersebut membuat saham yang benar-benar beredar di pasar diperkirakan tersisa di bawah 10%.
Baca Juga: DSSA Masih Berdarah-Darah, BRPT dan TPIA Mulai Rebound
Baca Juga: FTSE Coret DSSA hingga HILL, Bos Bursa: Konsekuensi Reformasi Pasar
Rendahnya free float membuat saham DSSA dinilai sulit memenuhi standar likuiditas yang menjadi syarat utama indeks global. Dalam metodologi MSCI maupun FTSE Russell, saham dengan porsi publik kecil cenderung memiliki risiko keterbatasan transaksi dan replikasi indeks bagi investor institusi.
Pergerakan saham DSSA juga menunjukkan volatilitas tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan grafik perdagangan, saham DSSA sempat berada di kisaran Rp4.000 pada awal tahun sebelum terus mengalami penurunan bertahap hingga menyentuh area Rp400-an pada akhir Mei 2026.
Keluarnya DSSA dari indeks global turut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memicu arus keluar dana dari produk investasi berbasis indeks maupun investor asing yang mengikuti acuan MSCI dan FTSE Russell.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: