- Home
- /
- Government
- /
- Government
Pemerintah Tak akan Diam soal Rupiah Tembus Rp18.000: Sesungguhnya Ekonomi Kita Cukup Kuat
Kredit Foto: Istihanah
Anjloknya nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat memicu perhatian luas. Angka tersebut bahkan mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah, melampaui level yang pernah terjadi saat krisis moneter 1998 maupun masa pandemi.
Di tengah kekhawatiran pasar dan masyarakat, pemerintah akhirnya angkat bicara. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan bahwa pemerintah bersama otoritas terkait terus melakukan pemantauan dan koordinasi intensif untuk merespons perkembangan nilai tukar rupiah.
Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah tercatat menyentuh level Rp18.036 per dolar AS. Kondisi tersebut menjadi sorotan karena menjadi titik terlemah mata uang Garuda sepanjang sejarah.
Merespons situasi tersebut, Prasetyo menegaskan pemerintah tidak tinggal diam. Koordinasi antara berbagai lembaga terus dilakukan guna memantau kondisi pasar sekaligus menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan.
"Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan, terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/6/2026) malam.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Purbaya: Itu Yurisdiksi Bank Sentral, Kewajiban Saya Jaga Fondasi Ekonomi
Meski nilai tukar rupiah mengalami tekanan cukup besar, Prasetyo menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam posisi yang kuat.
Menurutnya, sejumlah indikator utama ekonomi nasional masih menunjukkan kinerja yang relatif baik, mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga tingkat inflasi yang tetap terjaga.
"Yang pasti bisa kami sampaikan bahwa kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi, kemudian dari inflasi yang masih terjaga, insya Allah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat gitu," ujar Prasetyo.
Pernyataan dari Istana itu sejalan dengan pandangan Bank Indonesia yang sebelumnya menegaskan bahwa fokus utama bank sentral bukan mempertahankan rupiah pada level tertentu.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa yang menjadi perhatian utama adalah menjaga stabilitas nilai tukar, bukan mengejar angka kurs tertentu.
Menurut Perry, ukuran stabilitas ditentukan oleh tingkat volatilitas atau fluktuasi rupiah dalam kurun waktu tertentu, bukan berdasarkan posisi nilai tukar semata.
"Kata-katanya adalah stabilitas nilai tukar rupiah, bukan tingkat nilai tukar rupiah. Kita bicara stabilitas, bukan level. Nah, ini yang kita jabarkan. Nah, yang kami dekati sekarang adalah yang kita sebut stabilitas. Ini adalah volatilitas nilai tukar rupiah yang average-nya 20 hari," kata Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).
Pelemahan rupiah yang menembus rekor terendah ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan otoritas moneter. Namun, pemerintah menegaskan bahwa koordinasi lintas lembaga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, sementara Bank Indonesia tetap fokus mengendalikan volatilitas pasar agar pergerakan rupiah tetap terkendali.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: