Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Dibuka Menguat di 6.217, Sebanyak 243 Saham Menguat

        IHSG Dibuka Menguat di 6.217, Sebanyak 243 Saham Menguat Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Senin (22/6) di zona merah. Berdasarkan data perdagangan pada pukul sekitar 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.166,957, turun 10,181 poin atau 0,16% dibandingkan penutupan sebelumnya.

        Pada awal sesi, IHSG dibuka di level 6.217,049 dan sempat menyentuh level tertinggi harian 6.226,717. Namun, tekanan jual membawa indeks turun hingga menyentuh level terendah 6.164,178.

        Meski indeks bergerak melemah, jumlah saham yang menguat masih lebih banyak dibandingkan yang terkoreksi. Tercatat 243 saham naik, 196 saham turun, dan 230 saham tidak berubah.

        Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mencapai 833,401 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp728,940 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 86.015 kali. Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sekitar Rp10.809,465 triliun.

        Senior Technical AnalystMirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG diperkirakan menguat terbatas setelah membentuk pola hammer candle. Sementara itu, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, namun indikator volume terus mengalami penurunan.

        "Adapun saham-saham big caps tetap menjadi fokus utama pasar untuk melihat arah pergerakan dana asing hari ini," kata dia dalam analisanya.

        Nafan menyebut, para pelaku pasar mencermati rilis Global Market Accessibility Review dari MSCI di mana hasil awal menunjukkan posisi Indonesia relatif aman di Emerging Market walaupun terdapat catatan pada aspek transparansi kepemilikan.

        Kendati demikian, market masih bersikap wait and see menjelang keputusan final Annual Market Classification pada 23–24 Juni mendatang untuk melihat apakah pembekuan penambahan konstituen indeks akan dicabut.

        "Para pelaku pasar juga bersiap mengantisipasi dampak dari agenda FTSE rebalancing yang efektif menjelang akhir pekan," imbuh dia.

        Di sisi lain, Bank Indonesia telah memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Langkah agresif ini diambil demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan meredam inflasi.

        Saat ini, Rupiah terpantau melemah 0,18% pada Rp17.794 per USD. Penyebabnya ialah bahwa sentimen eksternal masih dipengaruhi oleh hasil pertemuan FOMC di bawah kepemimpinan Kevin Warsh yang dinilai hawkish oleh kalangan market.

        Baca Juga: IHSG Menguat 2,82% Selama Pekan, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.788 Triliun

        Baca Juga: Hasil Review MSCI Kurangi Ketidakpastian, Arah IHSG Masih Tunggu Putusan 23 Juni

        "Walaupun suku bunga acuan ditahan di level 3,75%, proyeksi median 2026 yang naik ke 3,8% mengindikasikan adanya peluang satu kali kenaikan Fed Rate lagi sebesar 25 bps pada Desember 2026," ungkap dia.

        Beralih ke Timur Tengah, AS dan Iran telah membuka diplomasi baru dengan menandatangani kesepakatan perdamaian sementara untuk mengakhiri operasi militer di semua lini dan segera membuka kembali Selat Hormuz. Perjanjian tersebut akan memulai periode negosiasi selama dua bulan untuk mencapai kesepakatan akhir.

        "Sentimen positif ini tentunya bisa memberikan angin segar bagi market," pungkas dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: