Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pendapatan MBMA Turun 22% Jadi US$1,43 Miliar pada 2025

        Pendapatan MBMA Turun 22% Jadi US$1,43 Miliar pada 2025 Kredit Foto: Merdeka Battery
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) membukukan pendapatan sebesar US$1,435 miliar pada 2025, turun 22,2% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$1,845 miliar. Di tengah pelemahan harga nikel global, perusahaan masih mencatat EBITDA sebesar US$219 juta. 

        Kinerja tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 yang menyetujui Laporan Tahunan dan laporan keuangan konsolidasian Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. 

        Manajemen menyebut peningkatan volume produksi nikel dan kontribusi yang lebih besar dari operasi hilir membantu menopang kinerja di tengah tekanan harga komoditas.

        Presiden Direktur MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo, mengatakan perusahaan akan melanjutkan pengembangan bisnis hilir untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.

        "MBMA berhasil mempertahankan kinerja yang tangguh di tengah tekanan harga nikel global, didukung oleh peningkatan volume produksi dan peningkatan margin di operasi hilir. Kami akan terus mempercepat pengembangan ekosistem hilir terintegrasi untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang Perseroan," ujar Teddy dalam keterangan resmi yang diterima Warta Ekonomi, Rabu (24/6/2026).

        Sepanjang 2025, tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) memproduksi 7 juta wet metric tonnes (wmt) bijih saprolit dan 14,7 juta wmt bijih limonit. Dari bisnis pengolahan, produksi Nickel Pig Iron (NPI) mencapai 73.871 ton, High-Grade Nickel Matte (HGNM) sebesar 19.998 ton, serta Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebanyak 25.994 ton. 

        Pada 2026, MBMA menargetkan produksi bijih saprolit sebesar 8 juta hingga 10 juta wmt dan bijih limonit sebesar 20 juta hingga 25 juta wmt. Produksi NPI ditargetkan berada di kisaran 70.000-80.000 ton, sedangkan HGNM ditargetkan meningkat menjadi 44.000-48.000 ton. 

        Perseroan juga melanjutkan sejumlah proyek hilirisasi nikel. MBMA telah mengoperasikan Feed Preparation Plant (FPP) untuk mengirimkan slurry limonit dari tambang SCM ke fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) yang dioperasikan PT ESG New Energy Material. Sementara proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) berkapasitas 90.000 ton nikel per tahun ditargetkan memulai commissioning lini pertama pada semester II 2026. 

        Baca Juga: Jelang RUPST, MBMA Usulkan Dua Direksi Baru untuk Perkuat Keuangan dan Operasional

        Baca Juga: Siapkan Buyback Rp1,7 Triliun, MBMA Baru Realisasikan Rp237 Miliar

        Dalam RUPST tersebut, pemegang saham juga menyetujui pengangkatan James Nicholas sebagai Direktur yang akan memperkuat fungsi keuangan Perseroan sebagai Chief Financial Officer (CFO) dan Ashutosh Srivastava Fausimm sebagai Direktur Operasional. Rapat juga menyetujui pengunduran diri Anthony Kartono Tan dari jabatan Direktur.

        "Penguatan susunan Direksi diharapkan dapat mendukung fokus MBMA pada disiplin keuangan, eksekusi operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang seiring pengembangan posisi Perseroan dalam rantai nilai bahan baku baterai," kata Teddy.

        Dengan keputusan tersebut, susunan pengurus MBMA menjadi sebagai berikut:

        Dewan Komisaris

        Presiden Komisaris: Winato Kartono

        Komisaris: Michael W.P. Soeryadjaya

        Komisaris Independen: Prof. Dr. Didi Achjari

        Direksi

        Presiden Direktur: Teddy Nuryanto Oetomo

        Direktur: Titien Supeno

        Direktur: James Nicholas

        Direktur: Ashutosh Srivastava Fausimm 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: