Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Sawit Petani Anjlok Saat CPO Dunia Naik, 274 Perusahaan Langsung Diperiksa

        Harga Sawit Petani Anjlok Saat CPO Dunia Naik, 274 Perusahaan Langsung Diperiksa Kredit Foto: Dok. Kementan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang sempat anjlok di tengah kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dunia akhirnya menjadi perhatian serius pemerintah. Kondisi yang dinilai tidak wajar itu membuat ratusan perusahaan sawit diperiksa karena diduga tidak menyesuaikan harga pembelian dari petani.

        Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan pemerintah menemukan kejanggalan ketika harga CPO global dan nilai tukar dolar AS menguat, namun harga TBS di tingkat petani justru mengalami penurunan. Situasi tersebut dinilai berpotensi merugikan jutaan petani yang menggantungkan hidup pada sektor sawit.

        Karena itu, Kementerian Pertanian bergerak cepat dengan menggelar serangkaian pertemuan bersama pelaku usaha, asosiasi, hingga perwakilan petani sawit. Langkah tersebut dilakukan untuk mencari penyebab anjloknya harga dan memastikan petani memperoleh harga yang lebih adil.

        Tak hanya itu, pemerintah juga menggandeng Kepolisian Republik Indonesia untuk menelusuri perusahaan-perusahaan yang dinilai belum mengikuti perkembangan harga pasar. Hasilnya, sebanyak 274 perusahaan masuk dalam proses pemeriksaan.

        “Kenapa? Karena harga CPO dunia naik, dan dengan Pak Kapolri kami kerja sama ada 274 (perusahaan) yang awalnya tidak menaikkan, jadi kita melakukan pemeriksaan,” kata Amran saat menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto pada Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo.

        Menurut Amran, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Harga TBS yang sebelumnya mengalami tekanan kini berangsur pulih dan kembali bergerak ke level yang lebih normal.

        Bahkan, pemerintah memperkirakan harga TBS berpotensi meningkat lebih tinggi dibandingkan sebelumnya jika kondisi pasar terus membaik. Kenaikan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sawit di berbagai daerah.

        “Kami laporkan, Bapak Presiden, TBS alhamdulillah sekarang sudah normal kembali, bila perlu naik 10% dari sebelumnya bapak presiden,” ujar Amran.

        Baca Juga: Amran Klaim Era Prabowo Cetak Rekor Baru Pertanian, dari Harga Pupuk Turun hingga Produksi Beras

        Pemerintah menegaskan tidak ingin petani sawit menjadi pihak yang dirugikan ketika harga komoditas global sedang mengalami kenaikan. Terlebih, sektor sawit saat ini menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 15 juta orang di Indonesia.

        Selain melaporkan perkembangan harga TBS, Amran juga menyampaikan sejumlah indikator positif di sektor pertanian. Salah satunya adalah peningkatan kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang disebut mencapai sekitar 127 pada Mei 2026, atau tertinggi dalam lebih dari tiga dekade terakhir.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: