Dorong Ekonomi Hijau, Inovasi Green Service Ubah Sampah Plastik Jadi Alat Bayar SIM dan SKCK
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Inovasi Green Service dalam layanan penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) menunjukkan bahwa pelayanan publik dapat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.
Program tersebut memungkinkan masyarakat memanfaatkan tabungan sampah plastik di bank sampah untuk membayar biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) penerbitan SIM maupun SKCK.
Melalui skema tersebut, pelayanan kepolisian terhubung dengan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah plastik yang memiliki nilai ekonomi. Masyarakat mengumpulkan dan memilah sampah plastik dari rumah, kemudian menyetorkannya ke bank sampah. Hasil penjualan sampah dikonversi menjadi saldo tabungan yang dapat digunakan untuk membayar biaya penerbitan SIM atau SKCK.
Setelah saldo tabungan mencukupi, bank sampah berkoordinasi dengan Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas). Pemohon kemudian datang sesuai jadwal dengan membawa seluruh persyaratan administrasi untuk menyelesaikan proses penerbitan SIM atau SKCK.
Selain menghadirkan alternatif pembayaran, Green Service juga memberikan layanan prioritas kepada peserta program sehingga proses penerbitan dokumen berlangsung lebih cepat. Skema tersebut sekaligus menjadi insentif bagi masyarakat yang aktif mengelola sampah dan menjaga kebersihan lingkungan.
Program yang lahir saat Arif Budiman menjabat Kapolresta Cirebon itu kembali menjadi sorotan setelah ia resmi menyandang pangkat Brigadir Jenderal Polisi. Inovasi tersebut dinilai berhasil mengintegrasikan pelayanan publik dengan penguatan ekonomi hijau berbasis masyarakat.
Dampak ekonomi Green Service juga tercermin dari perkembangan bank sampah. Kuwu Desa Krandon, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Warnawan, mengatakan jumlah nasabah bank sampah di desanya meningkat signifikan sejak program tersebut dijalankan.
"Jumlah nasabah bank sampah di Desa Krandon meningkat dari sekitar 60 orang menjadi sekitar 120 orang. Sebagian besar warga menabung sampah plastik selama beberapa bulan hingga saldonya mencukupi untuk membayar biaya penerbitan SIM," ujar Warnawan, Rabu (1/7/2026).
Peningkatan jumlah nasabah menunjukkan masyarakat mulai memandang sampah plastik sebagai aset ekonomi, bukan sekadar limbah. Kondisi tersebut turut memperkuat peran bank sampah sebagai pusat ekonomi berbasis komunitas sekaligus meningkatkan partisipasi warga dalam pengelolaan sampah.
Melalui skema tersebut, praktik ekonomi sirkular semakin berkembang karena sampah yang sebelumnya tidak bernilai dapat diolah menjadi sumber manfaat ekonomi. Aktivitas bank sampah juga mendorong perputaran ekonomi lokal sekaligus memperkuat budaya daur ulang di masyarakat.
Baca Juga: Apakah SIM Digital Bisa Ditunjukkan Saat Razia? Ini Penjelasannya
Baca Juga: Registrasi SIM Biometrik Mulai 1 Juli, Komdigi Incar Spam dan Judi Online
Kolaborasi antara pelayanan publik dan bank sampah menunjukkan bahwa inovasi sektor publik mampu menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan. Pendekatan ini dinilai berpotensi direplikasi di berbagai daerah untuk mempercepat pengurangan sampah plastik sekaligus memperkuat ekonomi hijau berbasis masyarakat.
Keberhasilan Green Service menunjukkan bahwa inovasi pelayanan publik tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas melalui penguatan bank sampah, peningkatan kesadaran lingkungan, serta berkembangnya ekonomi hijau berbasis masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: