Ulah Israel Kembali Ancam Hasil Negosiasi Iran-Amerika, Komitmen Nuklir Jadi Sorotan
Kredit Foto: Istimewa
Israel kembali mengancam hasil negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat. Pernyataan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menjadi sorotan karena dilaporkan mengancam akan membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Ancaman tersebut langsung memicu respons keras dari Teheran. Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Rezaei menyatakan pernyataan tersebutdapat menjadi alasan kuat bagi negaranya untuk meninjau kembali komitmen yang selama ini menjadi dasar perundingan nuklir.
Baca Juga: Tak Disangka-sangka, Dokter Tifa Pernah Dibuat Nangis Tim Roy Suryo di Kasus Ijazah Jokowi
"Ancaman menteri perang rezim zionis untuk membunuh pemimpin bangsa kami merupakan alasan yang sah dan kuat untuk mempertimbangkan kembali doktrin nuklir serta Pasal 8 Perjanjian Islamabad," ungkap Rezaei, dikutip Jumat (3/7).
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa meningkatnya ketegangan keamanan berpotensi mengganggu jalur diplomasi yang selama ini ditempuh Iran dan Amerika Serikat.
Israel Katz sebelumnya menyampaikan pernyataan kontroversial itu dalam sebuah pengarahan militer tertutup pada 30 Juni. Dalam kesempatan tersebut, ia disebut mengatakan bahwa negaranya tengah memburu Mojtaba Khamenei.
Meski disampaikan dalam forum tertutup, pernyataan tersebut segera memicu reaksi keras dari pejabat dari Iran. Mereka menilai ancaman terhadap pemimpin tertinggi negara tidak dapat dipisahkan dari dinamika negosiasi nuklir.
Pasal 8 dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang disinggung merupakan salah satu poin penting dalam komitmen mereka kepada komunitas internasional. Ketentuan tersebut mengharuskan negara itu tidak mengembangkan senjata nuklir hingga menyerahkan kelebihan uranium yang telah diperkaya di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Iran, dengan munculnya ancaman terhadap pemimpin merema, menilai komitmen tersebut layak dievaluasi ulang apabila situasi keamanan terus memburuk.
Pernyataan Rezaei juga memperlihatkan bahwa isu keamanan dan diplomasi nuklir semakin sulit dipisahkan. Ketika ancaman militer meningkat, ruang bagi proses negosiasi berpotensi menyempit karena tekanan politik di dalam negeri Iran untuk mengambil sikap yang lebih keras.
Jika Iran benar-benar mengubah posisinya terhadap komitmen nuklir, upaya dunia untuk melanjutkan dialog diplomatik diperkirakan akan menghadapi hambatan yang lebih besar. Kondisi tersebut juga berpotensi memperburuk ketegangan di Timur Tengah.
Baca Juga: FIFA Puji Perjalanan Iran di Piala Dunia 2026, Gigih Meski Dijegal Kebijakan Amerika
Pernyataan Israel, di tengah upaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka, dinilai dapat memperumit proses yang sedang berlangsung. Ancaman ke Iran bukan hanya meningkatkan risiko eskalasi militer, tetapi juga membuka kemungkinan berubahnya kebijakan nuklir mereka yang selama ini menjadi salah satu fokus utama negosiasi dengan Amerika Serikat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: