Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Belanja AI Membengkak, Big Tech AS Tanggung Utang Rp53.900 Triliun

        Belanja AI Membengkak, Big Tech AS Tanggung Utang Rp53.900 Triliun Kredit Foto: F5
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gelombang investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuat lima perusahaan teknologi terbesar Amerika Serikat memikul komitmen keuangan sekitar US$3 triliun atau Rp54.000 triliun (kurs Rp18.000). Besarnya investasi untuk membangun infrastruktur AI membuat kewajiban finansial perusahaan kini melampaui utang yang tercatat dalam laporan keuangan.

        Berdasarkan laporan Nikkei Asia, Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, dan Oracle memiliki total komitmen keuangan sekitar US$3 triliun atau sekitar Rp54.000 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar US$1,35 triliun atau Rp24.300 triliun tercatat sebagai utang di neraca, sedangkan sekitar US$1,65 triliun atau Rp29.700 triliun merupakan komitmen keuangan jangka panjang yang belum diakui sebagai utang dalam laporan posisi keuangan utama.

        Dalam empat tahun terakhir, komitmen keuangan di luar neraca tersebut meningkat hingga delapan kali lipat seiring masifnya investasi perusahaan teknologi untuk memperkuat kapasitas AI.

        Sebagian besar kewajiban tersebut berasal dari kontrak sewa pusat data (data center) jangka panjang, pembelian server, akselerator grafis (graphics processing unit/GPU), serta berbagai perangkat komputasi yang telah dipesan untuk mendukung pengembangan AI.

        Meski belum dicatat sebagai utang dalam neraca, seluruh komitmen tersebut tetap menjadi kewajiban finansial yang harus dipenuhi perusahaan pada masa mendatang. Informasi mengenai komitmen tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan yang disampaikan kepada regulator pasar modal, sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku di Amerika Serikat.

        Laporan tersebut juga menyoroti bahwa penyajian komitmen di luar neraca dapat menyulitkan investor, terutama investor ritel, untuk memperoleh gambaran utuh mengenai total kewajiban finansial yang ditanggung perusahaan.

        Di antara lima perusahaan yang dianalisis, Meta tercatat memikul komitmen keuangan di luar neraca terbesar, yakni sekitar US$420 miliar atau Rp7.560 triliun. Nilai tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan kewajiban yang tercantum dalam laporan keuangan perusahaan pada tahun fiskal 2026.

        Salah satu penyumbangnya adalah proyek pusat data AI Hyperion di Louisiana yang didukung investasi senilai US$27 miliar atau Rp486 triliundari Blue Owl Capital. Struktur pembiayaan proyek tersebut membuat kewajiban terkait tidak tercermin sebagai utang dalam laporan laba rugi maupun neraca perusahaan.

        Baca Juga: Google Proyeksikan AI Dorong Ekonomi Kreatif RI hingga Rp66 Triliun per Tahun

        Baca Juga: Netflix Rogoh Rp10,5 Triliun Demi Akuisisi Startup AI Milik Ben Affleck

        Baca Juga: Airlangga Gandeng AS Hingga China Kembangkan AI dan Ekosistem Digital

        Sementara itu, Oracle menjadi perusahaan dengan kenaikan komitmen keuangan paling pesat. Dalam empat tahun terakhir, nilainya melonjak sekitar 30 kali lipat menjadi US$273,3 miliar atau Rp4.919,4 triliun per akhir Mei 2026.

        Peningkatan tersebut didorong oleh kontrak sewa jangka panjang dengan operator pusat data pihak ketiga, pengembangan proyek pusat data AI Stargate, serta ekspansi fasilitas AI di sejumlah negara bagian Amerika Serikat, seperti Texas, New Mexico, Michigan, dan Wisconsin.

        Temuan tersebut mencerminkan besarnya belanja modal yang tengah digelontorkan perusahaan teknologi global untuk memenangkan persaingan AI. Meskipun sebagian komitmen belum diklasifikasikan sebagai utang dalam neraca, kewajiban tersebut tetap menjadi beban finansial yang harus dipenuhi perusahaan dalam jangka panjang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: