Blunder Tangani Bank Indonesia (BI) Bisa Jadi Awal Mimpi Buruk Prabowo: Rakyat Juga Akan Menderita
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Polemik Bank Indonesia (BI) dinilai tidak hanya berdampak pada posisi pimpinan bank sentral, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional yang selama ini menjadi perhatian dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.
Ekonom Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya mengingatkan bahwa kredibilitas dan independensi bank sentral merupakan fondasi utama yang harus dijaga agar kebijakan moneter tetap dipercaya pelaku ekonomi.
Baca Juga: Hipotesa Eks Menteri, Bulan Juli Menjadi 'Gong' Operasi Perlawanan Geng Solo ke Presiden Prabowo
Menurut Berly, apabila independensi bank sentral terganggu akibat dinamika politik, dampaknya dapat meluas hingga memengaruhi nilai tukar rupiah, inflasi dan daya beli masyarakat. Karena itu, ia menilai persoalan yang tengah berkembang harus disikapi secara hati-hati.
"Saat ini yang dipertaruhkan adalah kredibilitas dan independensi dari Bank Indonesia. Ketika kredibilitas merosot atau bahkan hilang maka akan jauh lebih sulit jaga nilai rupiah dan inflasi," ujar Berly, dikutip Kamis (30/7/2026).
Ia menjelaskan, kepercayaan terhadap bank sentral merupakan modal utama dalam menjaga efektivitas kebijakan moneter. Ketika kredibilitas tersebut mulai dipertanyakan, maka upaya menjaga stabilitas ekonomi akan menjadi jauh lebih sulit dan konsekuensi dari kondisi tersebut pada akhirnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui melemahnya kemampuan daya beli.
"Rakyat juga yang akan menderita karena melemah daya belinya," katanya.
Berly menegaskan bahwa kredibilitas merupakan aset yang tidak bisa digantikan oleh instrumen kebijakan apa pun. Karena itu, menjaga independensi bank sentral menjadi syarat penting agar kepercayaan publik maupun pelaku pasar tetap terpelihara.
"Kredibilitas adalah nyawa bank sentral. Begitu kredibilitas itu wafat, rupiah bukan hanya akan melemah, melainkan akan sekarat tanpa ada yang bisa menolong," ujarnya.
Berly juga mengaku prihatin karena pembahasan mengenai kebijakan ekonomi kini harus disampaikan dengan nada yang menurutnya lebih emosional dibandingkan biasanya.
"It's sign of worrying times when economic analysis become poetic," tuturnya.
Diketahui, independensi bank sentral selama ini dipandang penting agar keputusan terkait suku bunga, inflasi dan stabilitas nilai tukar diambil berdasarkan indikator ekonomi, bukan pertimbangan politik jangka pendek.
Baca Juga: 3 Skenario di Balik Mundurnya Perry Warjiyo dari Kursi Gubernur BI: Tak Ada yang Benar-benar Bersih
Sebelumnya, Bank Indonesia mengejutkan publik dengan pengumuman undur dirinya Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI pada 26 Juli 2026. Keputusan tersebut terjadi saat masa jabatan keduanya masih berjalan hingga 2028. Hal tersebut mengakibatkan kepanikan dalam pasar hingga dugaan adanya intervensi politik di BI.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar